Demam berdarah dengue (DBD) kini menjadi ancaman kesehatan yang tak mengenal musim, hadir sepanjang tahun. Menghadapi situasi ini, para dokter menekankan bahwa upaya pencegahan yang dilakukan masyarakat perlu ditingkatkan dan tidak lagi cukup hanya mengandalkan metode 3M Plus.
Metode 3M Plus, yang meliputi Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang barang bekas, serta ditambah dengan pencegahan gigitan nyamuk, telah lama menjadi garda terdepan dalam memerangi DBD. Namun, perubahan pola penyakit dan peningkatan kasus yang terjadi belakangan ini menuntut pendekatan yang lebih holistik.
Menurut dr. Winda, seorang dokter spesialis anak, faktor perubahan iklim dan urbanisasi menjadi pemicu utama mengapa nyamuk Aedes aegypti, vektor penular DBD, kini dapat berkembang biak sepanjang tahun. “Dulu kita punya pola musim di mana nyamuk banyak saat musim hujan. Tapi sekarang, dengan perubahan iklim, nyamuk itu bisa ada kapan saja,” jelas dr. Winda.
Beliau menambahkan, ancaman DBD yang terus-menerus ini mengharuskan adanya kesadaran yang lebih tinggi di masyarakat. “Kita tidak bisa lagi hanya berpatokan pada musim tertentu untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Pencegahan harus menjadi kegiatan rutin, bukan hanya sporadis saat ada kasus,” tegasnya.
Lebih lanjut, dr. Winda mengemukakan bahwa selain 3M Plus, perlu ada upaya tambahan yang lebih terintegrasi. Ini termasuk pengendalian vektor secara kimiawi yang mungkin perlu dipertimbangkan kembali oleh pemerintah daerah di area-area dengan kasus tinggi, serta peningkatan surveilans epidemiologi untuk mendeteksi lonjakan kasus lebih dini. “Penting juga untuk edukasi masyarakat secara terus-menerus mengenai gejala DBD dan kapan harus segera mencari pertolongan medis,” tuturnya.
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan tren peningkatan kasus DBD di beberapa wilayah. Hal ini semakin mempertegas urgensi untuk memperluas strategi pencegahan. Pemerintah daerah pun diminta untuk lebih proaktif dalam menggerakkan program pemberantasan sarang nyamuk dan kampanye kesehatan, melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT/RW hingga sekolah dan tempat kerja.
Pendekatan komprehensif ini diharapkan mampu menekan angka kejadian DBD dan mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) yang dapat membebani sistem kesehatan.
