Saturday, 25 July 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Boox Merambah Pasar E-Reader Mini dengan Produk Baru ‘Picco’

Oleh Heni Maulidya July 25, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Boox, produsen perangkat e-ink yang sebelumnya sukses dengan model Palma, kini bersiap memasuki segmen e-reader berukuran saku yang sedang naik daun. Perusahaan ini dikabarkan akan meluncurkan perangkat baru bernama Boox Picco, yang diklaim memiliki desain sangat mirip dengan produk dari Xteink, pesaing yang tengah merajai pasar perangkat e-ink ringkas.

Informasi mengenai rencana Boox ini pertama kali beredar di Reddit, sebelum akhirnya dikonfirmasi oleh pihak perusahaan. Boox akan memperkenalkan lini produk baru bernama Boox Tile, yang berfokus pada pengalaman membaca ePaper yang ringan dan fleksibel untuk penggunaan sehari-hari. Boox Picco akan menjadi perangkat pertama dari lini ini, digambarkan sebagai e-reader yang benar-benar pas di genggaman tangan.

Perangkat yang akan datang ini dirancang sebagai “perangkat ePaper ringkas untuk skenario membaca yang lebih nyaman, seperti saat bepergian dan membaca di mana saja,” demikian pernyataan resmi dari Boox. Boox Picco akan dibekali layar e-ink hitam-putih berukuran 3,97 inci, yang lebih kecil dari Xteink X4 namun lebih besar dari Xteink X3. Fitur lain yang diumumkan termasuk lampu depan (fitur yang baru diperkenalkan Xteink pada X4 Pro) dan dukungan kartu microSD.

Namun, Boox belum merinci spesifikasi penting lainnya seperti jenis prosesor yang digunakan, keberadaan tombol fisik, atau apakah perangkat akan menjalankan sistem operasi Android seperti Palma. Tanggal rilis dan banderol harga juga masih menjadi misteri. Situasi ini kontras dengan Xteink, yang produknya seperti X4, X3, dan X4 Pro, telah meraih popularitas viral berkat ukurannya yang sangat kecil, harga terjangkau mulai dari $69, dan kesederhanaannya.

Fenomena e-reader mini seperti yang ditawarkan Xteink ini muncul di tengah tren apresiasi terhadap teknologi retro. Pengguna menyukai perangkat Xteink yang minim fitur, bahkan seringkali disarankan untuk mengganti sistem operasinya demi kesederhanaan. Ukuran yang ringkas, kontrol taktil (meskipun X4 Pro kini memiliki layar sentuh), dan fokus pada satu fungsi utama, dinilai sebagai penawar di era di mana gempuran fitur teknologi yang berlebihan, termasuk integrasi AI yang tidak perlu, justru menguras perhatian pengguna.

Meskipun demikian, Boox Palma yang pernah diulas sebelumnya, meski disukai karena layarnya yang e-ink, dianggap terlalu banyak fitur dan mahal. Palma 2 Pro misalnya, dibanderol $400 dan mampu menjalankan aplikasi, mengambil foto, memutar video, bahkan melakukan panggilan via WiFi, menjadikannya mirip smartphone namun dengan harga yang sulit dibenarkan dibanding Kindle. Ukuran Palma yang 6,13 inci juga masih terasa seperti perangkat tambahan yang perlu dibawa.

Dengan kesuksesan Xteink yang tak terduga, Boox Picco berpotensi menjadi perangkat baca sederhana dengan sentuhan profesional dari perusahaan yang lebih berpengalaman. Kunci keberhasilannya kemungkinan terletak pada kesederhanaan dan harga yang kompetitif, idealnya di bawah $100. Namun, jika Boox mengulangi kesalahan Palma dengan menambahkan terlalu banyak fitur yang tidak perlu, Picco mungkin akan bernasib sama.

Bagikan: Facebook X WhatsApp