Friday, 24 July 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Mengurai Sikap Defensif: Mengenali Seseorang yang Rentan Terhadap Kritik

Oleh Muzairi M July 24, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Menerima masukan, sekalipun yang konstruktif, kerap kali menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian individu. Alih-alih menjadikannya bahan evaluasi, ada saja orang yang justru merasa tersinggung atau defensif ketika diberi kritik. Sikap ini dapat menghambat pertumbuhan personal maupun profesional.

Beberapa tanda dapat dikenali pada seseorang yang memiliki kecenderungan sulit menerima kritik. Salah satunya adalah ketika mereka cenderung mengabaikan atau meremehkan masukan yang diberikan, seolah-olah kritik tersebut tidak relevan atau tidak valid. Mereka mungkin akan mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan mereka atau justru menyalahkan faktor eksternal.

Lebih lanjut, individu yang sensitif terhadap kritik sering kali menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan. Kemarahan, kekecewaan mendalam, atau bahkan menarik diri secara sosial bisa menjadi respons umum. Alih-alih fokus pada substansi kritik, perhatian mereka teralih pada perasaan terluka pribadi. Ini bisa diungkapkan dengan perkataan seperti, “Kamu tidak mengerti situasiku,” atau “Memang kamu selalu begitu.”

Tanda lain yang kentara adalah keengganan untuk mengakui kesalahan. Orang yang sulit menerima kritik cenderung sulit mengatakan “ya, saya salah.” Mereka mungkin akan memutarbalikkan fakta, mengelak tanggung jawab, atau bahkan menyerang balik pemberi kritik. Upaya untuk memperbaiki diri menjadi terhambat karena fondasi kesadaran akan adanya ruang untuk perbaikan tidak terbangun.

Selain itu, mereka yang defensif terhadap kritik sering kali memiliki pandangan yang kaku terhadap diri sendiri. Mereka mungkin memegang teguh citra diri tertentu dan merasa terancam jika citra tersebut dibongkar oleh masukan orang lain. Hal ini membuat mereka enggan untuk melakukan introspeksi mendalam atau membuka diri terhadap perspektif baru yang berbeda.

Perilaku mencari validasi eksternal yang berlebihan juga bisa menjadi indikasi. Mereka mungkin sangat bergantung pada pujian dan pujian, sehingga kritik sekecil apa pun terasa seperti serangan pribadi. Akibatnya, mereka akan lebih memilih untuk dikelilingi oleh orang-orang yang selalu setuju, daripada berinteraksi dengan mereka yang berani memberikan pandangan berbeda.

Terakhir, pola komunikasi yang tertutup dan resisten terhadap dialog konstruktif juga menjadi ciri khas. Alih-alih mendengarkan dengan saksama, mereka mungkin cenderung menyela, membela diri secara agresif, atau bahkan mengalihkan pembicaraan. Sikap ini menutup pintu untuk diskusi yang produktif dan solusi yang kolaboratif.

Bagikan: Facebook X WhatsApp