Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, baru-baru ini menghebohkan publik dengan pernyataannya yang mengaku hanya tidur antara nol hingga tiga jam setiap malam. Pengakuan mengejutkan ini sontak memicu beragam reaksi dari masyarakat.
Pernyataan Takaichi ini muncul dalam sebuah kesempatan yang belum dirinci kapan dan di mana persisnya, namun intinya adalah ia mengklaim mampu menjalankan tugas kenegaraan dengan durasi tidur yang sangat minim tersebut. Sang perdana menteri bahkan menyebutkan bahwa dalam beberapa kondisi, ia bisa tidak tidur sama sekali.
Fakta bahwa seorang pemimpin negara bisa beroperasi dengan tingkat istirahat yang sangat kurang ini menimbulkan pertanyaan sekaligus kekaguman. Banyak yang mempertanyakan bagaimana Takaichi dapat menjaga stamina dan ketajaman pikirannya untuk mengemban tanggung jawab besar sebagai perdana menteri. Rekam jejaknya dalam bekerja keras dan dedikasinya terhadap politik sudah cukup dikenal.
Reaksi publik terhadap klaim ini bervariasi. Sebagian merasa terinspirasi oleh etos kerja Takaichi yang luar biasa, melihatnya sebagai contoh dedikasi tanpa henti. Namun, tidak sedikit pula yang menyuarakan kekhawatiran akan kesehatan dan kesejahteraan sang perdana menteri. Para ahli kesehatan seringkali menekankan pentingnya tidur yang cukup untuk fungsi kognitif optimal dan kesehatan jangka panjang.
Meskipun demikian, Takaichi tampaknya tidak gentar dengan konsekuensi dari kebiasaan tidurnya yang tidak lazim. Pernyataannya ini membuka kembali diskusi tentang batas-batas kemampuan manusia dalam bekerja dan bagaimana para pemimpin memprioritaskan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, atau bahkan mengabaikannya demi tugas negara. Pengakuan ini menyoroti tekanan luar biasa yang dihadapi oleh para pemimpin di tingkat tertinggi.
