Penelitian terbaru yang dipaparkan dalam Alzheimer’s Association International Conference menemukan adanya korelasi antara rentang usia reproduksi perempuan dengan hasil kesehatan kognitif mereka. Studi ini menggunakan pendekatan multiomik untuk menggali lebih dalam hubungan tersebut.
Dr. Pia Campagna, seorang peneliti postdoctoral dari Weill Institute for Neurosciences di University of California, San Francisco, menjelaskan bahwa temuan ini menguatkan bukti sebelumnya. “Setidaknya selama satu dekade terakhir, kita telah mengetahui bahwa usia menopause yang lebih dini dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit Alzheimer,” ujar Dr. Campagna saat presentasinya.
Lebih lanjut, Dr. Campagna merinci bahwa menopause dini tidak hanya meningkatkan risiko penyakit Alzheimer, tetapi juga terindikasi berhubungan dengan peningkatan patologi penyakit Alzheimer. Temuan ini didasarkan pada analisis jaringan otak pasca-mortem. Selain itu, studi ini juga mengamati adanya perubahan pada materi putih otak (white matter) yang berkaitan dengan usia menopause.
Pendekatan multiomik yang digunakan dalam penelitian ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengintegrasikan berbagai jenis data biologis, seperti genomik, proteomik, dan metabolomik. Kombinasi data ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai mekanisme biologis yang mendasari hubungan antara menopause dan fungsi kognitif. Dengan memahami interaksi kompleks antar molekul dan jalur biologis, studi ini berupaya mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang berkontribusi terhadap penurunan kognitif pada perempuan pascamenopause.
Temuan ini memiliki implikasi penting dalam upaya pencegahan dan penanganan penyakit neurodegeneratif. Identifikasi biomarker potensial dan pemahaman mendalam mengenai proses patologis yang terjadi dapat membuka jalan bagi pengembangan intervensi yang lebih efektif untuk menjaga kesehatan kognitif perempuan sepanjang hidup mereka, terutama bagi mereka yang mengalami menopause pada usia lebih muda.
