Batuk yang tak kunjung sembuh pada anak bisa menjadi indikasi adanya penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Kondisi ini, yang sering diasosiasikan dengan orang dewasa, ternyata juga dapat menyerang anak-anak dan berpotensi mengganggu tumbuh kembang mereka jika tidak ditangani secara tepat waktu. Mengenali gejala, penyebab, dan dampaknya menjadi kunci penting bagi orang tua.
GERD terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Pada anak-anak, gejala GERD bisa bervariasi dan terkadang tidak spesifik. Selain batuk kronis, gejala lain yang patut diperhatikan meliputi muntah berulang, kesulitan menelan, penurunan berat badan, rewel berlebihan, hingga gangguan tidur. Penting untuk dicatat bahwa tidak semua anak yang mengalami gumoh atau muntah berarti menderita GERD.
Menurut dr. Ariyani, Sp.A(K), seorang spesialis anak konsultan gastroentero-hepatologi, GERD pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah ketidakmatangan katup esofagus bagian bawah (sfingter esofagus bawah/LES) yang berfungsi sebagai penutup antara kerongkongan dan lambung. Jika katup ini belum berfungsi sempurna, isi lambung, termasuk asam, dapat lebih mudah naik kembali. Faktor lain seperti alergi susu sapi, intoleransi makanan, atau bahkan posisi tidur yang kurang tepat juga dapat memicu atau memperparah GERD pada anak.
Dampak GERD pada tumbuh kembang anak tidak boleh disepelekan. Gangguan makan yang diakibatkan oleh rasa tidak nyaman saat menelan atau rasa sakit di dada dapat menyebabkan asupan nutrisi yang kurang memadai. Hal ini berujung pada masalah pertumbuhan berat badan dan tinggi badan. Lebih lanjut, GERD yang kronis dapat memengaruhi kualitas tidur anak, yang sangat krusial untuk perkembangan kognitif dan fisik mereka. Dalam kasus yang parah, GERD dapat menyebabkan komplikasi seperti radang kerongkongan (esofagitis) atau penyempitan kerongkongan.
Penanganan GERD pada anak umumnya melibatkan perubahan gaya hidup dan pola makan. Dokter mungkin akan merekomendasikan untuk memberikan porsi makan yang lebih kecil namun lebih sering, menghindari makanan pemicu seperti cokelat atau makanan berlemak, serta meninggikan posisi kepala anak saat tidur. Pemberian obat-obatan untuk mengurangi produksi asam lambung atau memperkuat sfingter esofagus bawah juga bisa menjadi pilihan terapi. Pendekatan yang holistik dan penanganan yang tepat waktu sangat penting untuk memastikan anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa terhambat oleh GERD.
