Proyek perluasan Bandara Internasional Jomo Kenyatta (JKIA) di Nairobi, Kenya, tengah menjadi sorotan tajam terkait dugaan kaitannya dengan ambisi China dalam memperluas pengaruh ekonomi dan politiknya di benua Afrika. Proyek yang bernilai miliaran dolar ini menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi dan potensi dampak jangka panjangnya bagi Kenya.
Investasi besar dari China dalam proyek infrastruktur di berbagai negara Afrika, termasuk perluasan JKIA, kerap dilihat sebagai bagian dari strategi “Belt and Road Initiative” (BRI) Beijing. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan konektivitas global dan memperkuat hubungan dagang, namun juga memunculkan kekhawatiran tentang jebakan utang dan dominasi ekonomi.
Menurut laporan yang beredar, proyek perluasan JKIA ini dianggarkan senilai 1,4 miliar dolar AS. Angka ini mencakup berbagai fasilitas baru, termasuk terminal penumpang modern dan peningkatan landasan pacu, yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas bandara dan menarik lebih banyak penerbangan internasional.
Namun, di balik janji modernisasi dan peningkatan ekonomi, muncul kritik dari berbagai pihak. Salah satu isu utama adalah dugaan kurangnya transparansi dalam proses tender dan penentuan pemenang kontrak. Beberapa laporan mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan China mendominasi proyek-proyek infrastruktur besar di Kenya, termasuk di sektor transportasi udara.
Seorang pengamat kebijakan publik Kenya, yang meminta namanya dirahasiakan, menyatakan keprihatinannya. “Kita harus memastikan bahwa investasi semacam ini benar-benar menguntungkan rakyat Kenya dalam jangka panjang, bukan hanya memenuhi agenda pihak luar,” ujarnya.
Pemerintah Kenya sendiri telah berulang kali menegaskan bahwa proyek-proyek yang didanai oleh China, termasuk perluasan JKIA, telah melalui proses yang sesuai dan dirancang untuk mendukung pembangunan nasional. Namun, desakan untuk audit yang lebih independen dan terbuka terus mengemuka dari kalangan masyarakat sipil dan akademisi.
Perluasan JKIA ini diharapkan selesai pada tahun 2025. Keberhasilan proyek ini, baik dari sisi teknis maupun implikasi geopolitiknya, akan menjadi barometer penting bagi hubungan Kenya dan China, serta bagi pola investasi negara-negara besar di masa depan di Afrika.
