Saturday, 18 July 2026
BREAKING
KESEHATAN

Diagnosis Malaria Anak di AS Sering Tertunda, Picu Kekhawatiran

Oleh Rini Widiyarti July 18, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Lebih dari seperempat anak di Amerika Serikat yang didiagnosis malaria dalam dekade terakhir mengalami penundaan diagnosis. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa mereka tidak menjalani tes malaria pada kunjungan pertama ke fasilitas kesehatan setelah gejala muncul. Temuan ini diungkap oleh para peneliti, menimbulkan kekhawatiran baru mengenai penanganan penyakit yang ditularkan nyamuk ini pada populasi anak.

Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat melaporkan sekitar 2.000 kasus malaria setiap tahunnya. Sebagian besar kasus tersebut melibatkan individu yang baru saja melakukan perjalanan ke atau berimigrasi dari negara-negara yang memiliki prevalensi penyakit malaria yang tinggi. Meskipun penularan lokal di AS jarang terjadi, tercatat ada 10 kasus pada tahun 2023, yang menunjukkan potensi risiko.

Sesh A. Sundararaman, MD, PhD, seorang spesialis penyakit menular pada anak, menjelaskan bahwa penundaan diagnosis ini dapat berdampak signifikan pada penanganan pasien. “Kesalahan diagnosis pada kasus malaria anak bisa terjadi jika dokter tidak mempertimbangkan malaria sebagai kemungkinan penyebab gejala yang dialami pasien, terutama jika pasien tidak memiliki riwayat perjalanan ke daerah endemik,” ujar Dr. Sundararaman. Ia menekankan pentingnya anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mengidentifikasi faktor risiko.

Studi yang dilakukan para peneliti menyoroti bahwa sekitar 27% kasus malaria pada anak di AS tidak terdiagnosis pada kunjungan pertama mereka. Gejala malaria, seperti demam, sakit kepala, dan kelelahan, seringkali mirip dengan penyakit lain yang lebih umum, sehingga dapat menyebabkan kebingungan dan penundaan dalam diagnosis yang tepat. Keterlambatan ini tidak hanya memperpanjang penderitaan pasien tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko komplikasi yang lebih serius.

Dr. Sundararaman menambahkan, “Sangat penting bagi tenaga kesehatan untuk selalu waspada terhadap kemungkinan malaria, bahkan pada anak-anak yang tidak memiliki riwayat perjalanan. Pertanyaan tentang paparan potensial, seperti gigitan nyamuk di lingkungan yang mungkin terkontaminasi, juga perlu digali lebih dalam.” Ia juga menggarisbawahi perlunya peningkatan kesadaran di kalangan tenaga medis mengenai pedoman diagnostik dan penanganan malaria pada anak.

Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti menyarankan agar tes malaria menjadi bagian rutin dari evaluasi awal pada anak-anak dengan gejala demam yang tidak jelas, terutama jika ada faktor risiko lain yang teridentifikasi. Edukasi berkelanjutan bagi para dokter dan profesional kesehatan mengenai gejala malaria dan pentingnya diagnosis dini adalah kunci untuk mencegah penundaan diagnosis dan memastikan penanganan yang cepat dan efektif bagi pasien anak.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait