Mengenang Memori Kelam Inggris di Azteca: Saat Maradona Mengubah Sejarah Sepak Bola

Danu Ilham

Piala Dunia 1986 di Meksiko menjadi panggung bagi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola. David Pleat, yang kala itu bertugas sebagai komentator ITV, masih mengingat dengan jelas laga perempat final antara Inggris melawan Argentina di Stadion Azteca. Pertandingan yang disaksikan 114.000 penonton tersebut melahirkan dua gol Diego Maradona yang selamanya akan dikenang sebagai kontroversi sekaligus mahakarya.

Sebelum peluit dibunyikan, suasana di Kota Meksiko sudah terasa mencekam. Kemacetan parah dan oknum polisi lokal yang korup menjadi bumbu di balik layar. Stadion Azteca sendiri sudah bergemuruh layaknya sarang lebah jauh sebelum laga dimulai. Pleat bersama komentator Martin Tyler harus memanjat hingga ke puncak tribun untuk mendapatkan posisi siaran terbaik.

Inggris saat itu sebenarnya memiliki skuat solid. Nama-nama besar seperti Peter Shilton, Terry Butcher, Glenn Hoddle, dan Gary Lineker menghiasi tim asuhan Bobby Robson. Namun, bermain di dataran tinggi Meksiko menjadi tantangan fisik yang berat. Pemain kesulitan melakukan pemulihan energi setelah melakukan sprint panjang.

Petaka bagi Inggris datang di babak kedua. Momen pertama adalah gol "Tangan Tuhan" yang dicetak Maradona. Pleat menilai Maradona sengaja mengangkat tangannya karena takut berbenturan dengan Shilton yang agak terlambat keluar dari sarangnya. Wasit asal Tunisia, Ali Ben Nasser, tidak melihat pelanggaran tersebut dan membiarkan gol itu disahkan.

Hanya beberapa menit berselang, Maradona kembali mencatatkan namanya di papan skor. Ia melakukan aksi individu memukau, melewati deretan pemain Inggris seperti Reid, Beardsley, Butcher, hingga Fenwick sebelum menaklukkan Shilton. Gol kedua ini diakui Pleat sebagai gol terbaik yang pernah ia saksikan secara langsung di stadion, bahkan mengungguli aksi Gareth Bale di final Liga Champions 2018.

Pertandingan itu juga menyisakan insiden memalukan bagi Pleat sendiri. Saat mengomentari umpan Maradona dari sudut sempit, ia secara tidak sengaja melontarkan kalimat janggal mengenai elevasi bola. Meski Inggris sempat memperkecil kedudukan lewat gol Gary Lineker hasil umpan John Barnes, langkah mereka harus terhenti.

Di luar lapangan, kenangan 1986 sangat berbeda dengan standar modern saat ini. Para kru televisi dan pemain tinggal di kompleks yang sama di Saltillo. Mereka bisa melihat para pemain berlatih dan menghabiskan waktu luang di kolam renang. Bahkan, ada pemain Inggris yang sibuk bertaruh pada pacuan kuda melalui rekaman video saat jeda turnamen.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, harapan untuk menghapus bayang-bayang Maradona di Stadion Azteca masih membekas. Pleat berharap generasi baru Inggris dapat kembali ke stadion tersebut, mengalahkan Meksiko, dan akhirnya mengubur kenangan menyakitkan di Piala Dunia 1986.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All