Jangan Langsung Salahkan Rumus, Periksa Permukaan Mata Pasien Dulu!

Rini Widiyarti

Jakarta – Kemajuan teknologi dalam operasi katarak modern kini semakin canggih. Penggunaan alat pengukur optik, rumus lensa intraokular (IOL) terbaru, dan teknik bedah yang disempurnakan telah membuat hasil refraktif menjadi lebih akurat. Namun, kejutan refraktif pasca operasi terkadang masih terjadi.

Kejutan ini seringkali bukan disebabkan oleh teknologi yang digunakan. Sebaliknya, akar masalahnya terletak pada kondisi permukaan mata pasien. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Nisarga Rajesh Rane, seorang spesialis mata yang berpraktik di India.

Film air mata merupakan antarmuka refraktif pertama pada mata. Ketika stabil, film ini menciptakan permukaan optik yang halus. Hal ini memungkinkan pengukuran kornea yang akurat.

Namun, ketidakstabilan film air mata dapat membuat permukaan kornea menjadi tidak beraturan secara optik. Bahkan ketidakstabilan ringan pun bisa mengubah pembacaan keratometri. Pengukuran astigmatisme kornea dan perhitungan daya IOL bisa terpengaruh.

Bagi ahli bedah yang mengincar presisi refraktif absolut, variabilitas kecil ini bisa berujung pada ketidakpuasan pasien pasca operasi.

Dalam praktik sehari-hari, banyak pasien usia katarak mengalami penyakit permukaan mata. Disfungsi kelenjar meibomian akibat penuaan, konsumsi obat-obatan sistemik, paparan lingkungan, dan penggunaan layar gawai dalam waktu lama berkontribusi pada ketidakstabilan air mata.

Penilaian sederhana seperti waktu pecah air mata (tear breakup time), pewarnaan kornea, dan evaluasi kelenjar meibomian dapat mengidentifikasi pasien yang memerlukan optimasi permukaan mata. Ini penting sebelum melakukan pengukuran biometri.

Sebuah skenario umum terjadi saat pemeriksaan pra-operasi. Ahli bedah mungkin mendapati pembacaan keratometri bervariasi antar pemindaian. Topografi bisa tampak sedikit tidak teratur. Pengulangan pengukuran yang signifikan, besaran atau sumbu astigmatisme yang tidak konsisten, serta perbedaan antara biometri dan topografi patut dicurigai.

Insting awal adalah mengulang pengukuran atau mencoba alat lain. Namun, masalah mendasar mungkin bukan pada alat ukurnya. Melainkan pada permukaan yang sedang diukur.

Saat pengukuran biometrik tampak tidak konsisten, pertimbangkan pertanyaan praktis ini: "Apakah permukaan mata cukup stabil untuk pengukuran yang andal?" Jika ragu, optimasi permukaan mata sebelum finalisasi perhitungan IOL sangat dianjurkan. Perawatan singkat saja bisa meningkatkan stabilitas air mata.

Ketelitian sangat penting saat merencanakan IOL torik atau multifokal pada pasien dengan permukaan mata tidak stabil. Ketidakakuratan pra-operasi dapat menjadi alasan utama ketidakpuasan pasca operasi.

Kemajuan teknologi bedah katarak memang luar biasa. Namun, akurasi teknologi ini tetap bergantung pada lingkungan biologisnya. Mengakui pengaruh permukaan mata mengingatkan kita bahwa presisi refraktif bukan hanya soal rumus atau mesin. Terkadang, langkah terpenting terjadi sebelum biometri dilakukan, yaitu mengoptimalkan permukaan yang diukur.

Dr. Nisarga Rajesh Rane, MBBS, MS, FCRS, seorang konsultan oftalmolog dan ahli bedah katarak, refraktif, serta permukaan mata, dapat dihubungi melalui email dr.nisarga.rr@gmail.com. Beliau melaporkan tidak ada pengungkapan finansial yang relevan terkait penelitian ini.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All