Solusi Jitu Kendalikan Diabetes Tipe 2: Makanan Siap Saji Ungguli Subsidi Pangan

Rini Widiyarti

PENELITIAN terbaru mengungkap strategi efektif untuk mengelola diabetes tipe 2, terutama bagi mereka yang menghadapi kerawanan pangan. Studi yang dipresentasikan di American Diabetes Association Scientific Sessions di New Orleans menunjukkan bahwa konsumsi makanan yang disiapkan secara medis (medically tailored meals) memberikan hasil lebih baik dalam menurunkan kadar HbA1c dibandingkan sekadar subsidi pangan.

Dr. Seth A. Berkowitz, seorang profesor kedokteran dari University of North Carolina School of Medicine, memimpin penelitian ini. Ia menjelaskan bahwa kerawanan pangan sering menjadi kendala utama bagi penderita diabetes untuk menerapkan pola makan sehat. "Makanan siap saji secara medis cenderung lebih mahal, namun dapat mengatasi lebih banyak hambatan makan sehat sehingga berpotensi lebih efektif," ujar Dr. Berkowitz.

Penelitian ini melibatkan 194 orang dewasa dengan diabetes tipe 2 yang mengalami kerawanan pangan. Mereka terbagi dalam dua kelompok selama enam bulan. Kelompok pertama menerima makanan siap saji secara medis yang dikirimkan ke rumah, lengkap dengan konseling gaya hidup. Kelompok kedua menerima subsidi pangan bulanan senilai $40 untuk membeli makanan sendiri.

Peserta dalam intervensi makanan siap saji medis menerima 10 kali makan dan 1 liter susu per minggu. Ahli gizi menyesuaikan menu berdasarkan preferensi dan kondisi komorbiditas masing-masing individu. Sesi konseling gaya hidup dilakukan melalui telepon. Hasil utama yang diukur adalah perubahan kadar HbA1c dari awal penelitian hingga bulan keenam.

Temuan kunci menunjukkan penurunan signifikan pada kadar HbA1c di kelompok makanan siap saji medis. Rata-rata HbA1c mereka turun menjadi 7.74%, lebih rendah dibandingkan kelompok subsidi pangan yang mencapai 8.17%. Perbedaan ini memiliki nilai statistik signifikan (P = .037).

Selain itu, intervensi makanan siap saji medis juga berkontribusi pada penurunan tekanan darah sistolik. Rata-rata tekanan darah sistolik pada kelompok ini tercatat 124.3 mm Hg, berbanding 130.8 mm Hg pada kelompok subsidi pangan (P = .02).

Peserta yang mendapatkan makanan siap saji medis juga melaporkan tingkat kerawanan pangan yang lebih rendah. Mereka juga menunjukkan kualitas diet yang lebih baik dan peningkatan kepercayaan diri dalam mengelola pola makan. Kualitas hidup dan tingkat stres diabetes tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok.

Dr. Berkowitz menambahkan bahwa kepatuhan terhadap intervensi makanan siap saji medis tergolong tinggi. Peserta menyelesaikan sebagian besar sesi konseling dan menerima pengiriman makanan sesuai jadwal. Namun, penelitian ini juga mencatat bahwa manfaat intervensi tidak bertahan lama setelah program berakhir. Tidak ada perbedaan signifikan dalam semua hasil pada peserta yang mengikuti tindak lanjut satu tahun kemudian.

Salah satu keterbatasan studi ini adalah fokus pada satu program makanan siap saji medis dan dilakukan di wilayah New England, Amerika Serikat. Dr. Berkowitz menekankan pentingnya kebijakan sosial yang mendukung kondisi kesehatan yang lebih baik. Penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi pengembangan program penanganan diabetes tipe 2 yang lebih terpersonalisasi dan efektif.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All