Eropa Terjebak Krisis Panas, Bergantung Penuh pada AC Buatan China

Emanuel

Uni Eropa kini berada dalam posisi yang sangat sulit. Di tengah upaya memangkas defisit perdagangan dengan China sebelum Oktober, Benua Biru justru diserang gelombang panas ekstrem. Fenomena cuaca ini memaksa warga Eropa sangat bergantung pada produk pendingin ruangan buatan China.

Laporan terbaru menunjukkan tidak ada satu pun dari lima merek AC terlaris di Eropa yang berasal dari perusahaan lokal. Pasar justru dikuasai oleh raksasa manufaktur asal Negeri Tirai Bambu.

Data tahun 2025 mengungkapkan bahwa Midea Group, Haier Group, dan Gree Electric Appliances sukses mencengkeram 32 persen pangsa pasar ritel di Eropa. Dua posisi lainnya diisi oleh Beko asal Turki dan Daikin dari Jepang.

Kepala Perdagangan Eropa, Maros Sefcovic, mengungkapkan kekhawatirannya setelah bertemu Menteri Perdagangan China, Wang Wentao, di Brussels. Ia menyebut tren ekspor China yang terus naik sementara pangsa pasar Eropa di China menyusut sebagai kondisi yang tidak berkelanjutan.

Ketergantungan ini kian nyata karena tingkat kepemilikan AC di rumah tangga Eropa baru menyentuh angka 20 persen. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan Amerika Serikat yang sudah mencapai hampir 90 persen.

Peluang pasar yang besar ini dimanfaatkan produsen Asia untuk melakukan ekspansi besar-besaran. Produk Midea PortaSplit bahkan mencatatkan lonjakan pemesanan hingga 200.000 unit per Senin lalu.

Produk tersebut menjadi primadona karena dirancang khusus untuk bangunan tua di Eropa. Konsumen bisa memasangnya tanpa perlu mengebor dinding dan memiliki volume zat pendingin yang sesuai regulasi Prancis.

Kondisi ini menegaskan adanya celah industri di Eropa yang memicu kepanikan internal. Apalagi, separuh dari barang impor UE dari China kini didominasi produk teknologi tinggi, mulai dari mobil listrik hingga mesin canggih.

Komisi Eropa menegaskan bahwa status quo perdagangan saat ini tidak bisa dipertahankan lebih lama. Sebagai langkah respons, UE mulai memperketat aturan pendanaan proyek tenaga surya yang menggunakan komponen China.

Pajak untuk kiriman bernilai rendah juga dihapus guna menghambat ekspansi platform e-commerce seperti Temu dan Shein. Namun, langkah ini dinilai belum cukup kuat oleh para pengamat.

Ekonom dari bank investasi Prancis Natixis, Alicia Garcia Herrero, menilai kesepakatan dagang baru-baru ini hanyalah taktik Beijing untuk menunda sanksi. Analis memprediksi UE tidak akan melakukan perang tarif total seperti Amerika Serikat.

Sanksi diprediksi akan lebih terfokus pada sektor strategis seperti logam tanah jarang, bahan kimia, dan otomotif. Meski demikian, Eropa harus berhati-hati karena Beijing telah mengancam akan memberikan tindakan balasan ekonomi jika kebijakan proteksionis terus ditekan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All