PT PLN (Persero) tengah tancap gas mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya skala besar di Indonesia. Perusahaan listrik negara ini resmi mengadopsi strategi pengelolaan lahan dan teknologi dari beberapa negara maju.
Negara yang menjadi acuan utama PLN meliputi Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, khususnya wilayah California, serta Arab Saudi. Langkah ini diambil untuk memastikan target kedaulatan energi nasional segera tercapai.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengungkapkan bahwa negara-negara tersebut sangat sukses mengoptimalkan bentang alam seperti gurun pasir. Pemanfaatan lahan luas ini terbukti mampu menghasilkan energi listrik dengan harga yang jauh lebih kompetitif.
Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis 2 Juli 2026, Darmawan menyatakan PLN sedang mereplikasi efisiensi tersebut. Pemerintah telah memberikan penugasan khusus terkait penyediaan lahan agar biaya pokok produksi listrik menjadi lebih murah.
Strategi ini selaras dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang menargetkan pembangunan PLTS dengan total kapasitas mencapai 100 Giga Watt. PLN berkomitmen mengubah ketergantungan energi fosil menjadi energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
Namun, PLN menyadari kondisi geografis Indonesia sangat berbeda dengan negara-negara gurun tersebut. Sebagai solusinya, PLN akan memanfaatkan permukaan waduk serta area di sepanjang koridor jalan tol milik negara.
Kerja sama strategis telah dijalin bersama Kementerian ATR/BPN untuk mengamankan lahan seluas 28.000 hektare. Selain itu, pemanfaatan permukaan waduk seluas 10.000 hektare diproyeksikan mampu menyumbang kapasitas listrik hingga 10,3 Giga Watt peak tanpa mengganggu pemukiman.
Mega proyek ini akan dijalankan secara bertahap. Pada tahap pertama, PLN menargetkan kapasitas sebesar 27,4 GWp yang dikombinasikan dengan sistem penyimpanan baterai atau Battery Energy Storage System sebesar 82,5 GWh.
Realisasi penambahan kapasitas direncanakan secara terukur, yakni 4,6 GW pada 2027, 4,4 GW pada 2028, dan ditargetkan mencapai akumulasi 19,1 GW hingga tahun 2030.
Khusus tahun 2028, perusahaan berencana mengoperasikan proyek BESS dan PLTS terapung di waduk negara dengan kapasitas 3,1 GW. Pihak PLN juga menyiapkan program eliminasi BBM di sistem Bali dan Madura melalui penggunaan teknologi baterai.
Salah satu program unggulan di Bali yakni Fat Burning, menargetkan pengurangan penggunaan BBM hingga 586 ribu kilo liter. Program ini akan menyerap lahan seluas 1.400 hektar dengan pemasangan 3.000 MWh BESS dan 1.400 MWp PLTS.
Langkah masif ini diharapkan mampu memperkuat sistem kelistrikan di seluruh Indonesia. Dengan dukungan penuh pemerintah, PLN optimistis transisi dari energi impor menuju energi domestik dapat terwujud lebih cepat.











