Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan. Data terbaru menunjukkan lonjakan lalu lintas kapal komersial mencapai 54 persen dalam sepekan terakhir.
Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran berhasil mencapai kesepakatan damai sementara. Perjanjian yang ditandatangani pada 14 Juni tersebut mulai berlaku efektif sejak 18 Juni 2026.
Perusahaan analitik Kpler mencatat sebanyak 343 kapal komersial melintasi jalur vital tersebut sepanjang periode 22-28 Juni 2026. Angka ini setara dengan rata-rata 49 kapal per hari.
Sebagai perbandingan, pada periode sebelumnya yakni 15-21 Juni, hanya tercatat 223 kapal yang melintas. Saat itu, rata-rata pelayaran harian hanya mencapai 32 kapal.
Meski trennya positif, kondisi di salah satu jalur distribusi minyak terpenting dunia ini masih jauh dari kata normal. Volume pelayaran saat ini masih 70 persen lebih rendah dibandingkan sebelum perang.
Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, rata-rata 130 kapal komersial melintasi Selat Hormuz setiap hari. Aktivitas sempat lumpuh total akibat serangan gabungan AS dan Israel serta aksi balasan Teheran.
Proses perundingan antara Washington dan Teheran yang masih berlangsung membuat situasi tetap rapuh. Para pelaku industri pelayaran global pun masih bersikap sangat berhati-hati.
Data Kpler menunjukkan fluktuasi cukup tajam selama periode 22-28 Juni. Jumlah pelayaran harian tercatat berkisar antara 24 hingga 76 kapal.
Puncak aktivitas terjadi pada 24 Juni dengan total 76 kapal. Ini menjadi hari tersibuk di Selat Hormuz sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu.
Sebagian besar kapal yang melintas adalah tanker pembawa minyak mentah dan produk bumi. Kapal-kapal tersebut berasal dari Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.
Pada Senin (29/6/2026), tercatat setidaknya enam juta barel minyak mentah berhasil dikirim melalui jalur strategis ini. Ini menjadi sinyal positif bagi pemulihan distribusi energi global.
Namun, pola pelayaran masih menunjukkan anomali. Mayoritas kapal lebih memilih menggunakan jalur di perairan teritorial Iran.
Selain itu, sebagian besar kapal yang beroperasi saat ini merupakan armada bayangan atau kapal yang sedang dalam status sanksi internasional. Hal ini mencerminkan masih tingginya risiko geopolitik di kawasan tersebut.
Hingga saat ini, pelaku pasar terus memantau perkembangan negosiasi kedua negara. Ketidakpastian diplomatik diprediksi masih akan membayangi arus logistik di Selat Hormuz dalam waktu dekat.











