Jakarta, CNN Indonesia — Rencana kerja sama strategis antara dua raksasa otomotif Jepang, Honda dan Nissan, kini semakin mendekati kenyataan. Presiden Honda, Toshihiro Mibe, mengungkapkan di hadapan para pemegang saham pada Jumat (26/6) bahwa progres kolaborasi ini telah berjalan cukup jauh dan beberapa aspek krusial segera memasuki tahap pengumuman resmi.
Honda, Nissan, dan Mitsubishi saat ini tengah mematangkan pembicaraan tahap akhir terkait standardisasi Electronic Control Unit (ECU). Komponen ini merupakan otak dari perangkat lunak kendaraan modern atau software-defined vehicle (SDV) yang mengendalikan sistem pengemudian otonom hingga fitur hiburan di dalam mobil. Meskipun masih ada detail mengenai pendanaan pengembangan yang belum sepenuhnya tuntas, kedua belah pihak menargetkan kesepakatan final dapat dicapai dalam beberapa pekan ke depan.
Toshihiro Mibe menegaskan bahwa setiap proyek dalam kemitraan ini dirancang untuk menciptakan hubungan yang saling menguntungkan. Langkah ini diambil di tengah posisi Honda yang cukup tertekan setelah mencatatkan rugi bersih tahunan pertama sejak melantai di bursa pada 1957. Selain itu, Honda juga terpaksa memangkas rencana produksi mobil listriknya secara drastis akibat kondisi pasar yang menantang.
Jika kesepakatan ini berhasil disahkan, kendaraan dengan ECU terstandarisasi ditargetkan bisa meluncur ke pasar paling cepat pada 2029 hingga 2030. Strategi ini diharapkan mampu menekan biaya operasional melalui pengadaan komponen bersama, sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan dalam menghadapi dominasi produsen otomotif asal China serta Tesla.
Selain ECU, kedua pabrikan juga tengah membahas penyelarasan sistem operasi kendaraan serta potensi produksi bersama di Amerika Utara. Opsi yang sedang dijajaki meliputi skema pasokan pikap dari Nissan untuk Honda dan Mitsubishi, serta pengembangan model kendaraan berukuran lebih besar.
Meski begitu, tantangan internal masih membayangi. Renault, sebagai pemegang 15 persen hak suara di Nissan, sempat memberikan sinyal penolakan terhadap usulan direksi yang diusung Nissan pada RUPS Selasa (23/6) lalu. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Renault bisa menjadi penghalang jika tidak menyetujui pendalaman aliansi antara Honda dan Nissan.
Di sisi lain, investor Honda mulai menunjukkan ketidaksabaran. Beberapa pemegang saham melayangkan kritik atas lambatnya progres kolaborasi ini serta revisi strategi kendaraan listrik perusahaan. Menanggapi tekanan tersebut, Mibe menyatakan komitmennya untuk menguasai teknologi dan strategi baru dalam tiga tahun ke depan guna mengalahkan rival-rival baru. Ia menegaskan bahwa tanpa langkah berani, bisnis roda empat Honda akan menghadapi masalah serius. Honda sendiri memproyeksikan laba bersih 260 miliar yen untuk tahun fiskal berikutnya, dengan harapan besar pada sektor roda dua untuk menopang bisnis otomotif yang sedang lesu.











