Turki Perkuat Cengkeraman di Asia Tenggara, Bidik Kerja Sama Strategis Energi hingga Mineral

Emanuel

Turki kini semakin menegaskan ambisi geopolitik dan ekonominya di kawasan Asia Tenggara dengan membidik status sebagai Full Dialogue Partner ASEAN. Langkah konkret ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Forum ASEAN-Turki perdana yang berlangsung di Jakarta. Pertemuan tersebut menjadi titik temu krusial bagi para pembuat kebijakan, diplomat, akademisi, hingga pakar dari kedua belah pihak untuk merumuskan arah kemitraan strategis yang lebih mendalam dan berkelanjutan di masa depan.

Duta Besar Turki untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Talip Kucukcan, menegaskan bahwa forum ini merupakan manifestasi nyata dari tekad kelembagaan Ankara dalam membangun visi strategis bersama. Menurut Kucukcan, forum ini tidak dirancang sekadar sebagai ajang diskusi sesaat, melainkan diproyeksikan menjadi mekanisme dialog tingkat tinggi yang konsisten. Melalui inisiatif ini, Turki ingin memastikan bahwa hubungan kerja sama dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara memiliki pijakan jangka panjang yang kokoh.

Sejalan dengan visi tersebut, Presiden Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), Tetsuya Watanabe, menyoroti adanya keselarasan ekonomi yang saling melengkapi antara kedua kawasan. ASEAN saat ini dikenal luas sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia yang paling dinamis. Di sisi lain, Turki memegang posisi geografis yang sangat strategis sebagai jembatan penghubung antara pasar Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Watanabe meyakini bahwa sinergi antara potensi ekonomi ASEAN dan posisi geopolitik Turki akan membawa manfaat signifikan bagi kemakmuran bersama.

Lebih jauh, kombinasi kekuatan dari kedua pihak ini dipandang mampu menjadi pilar penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi dan stabilitas keamanan global yang kian menantang. Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Ekonomi, Satvinder Singh, menekankan bahwa kemitraan ASEAN-Turki memang sudah saatnya mendapatkan perhatian strategis yang lebih serius. Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan dinamika geopolitik yang terus bergejolak, kolaborasi yang erat antara ASEAN dan Turki diharapkan mampu menjadi penyeimbang yang stabil bagi kedua kawasan.

Dalam forum yang digelar di Jakarta tersebut, para peserta tidak hanya membahas visi makro, tetapi juga menyusun rekomendasi kebijakan yang konkret. Salah satu fokus utama yang menjadi sorotan adalah upaya memperdalam kemitraan kelembagaan. Ada dorongan kuat agar Ankara dapat terlibat lebih aktif dalam berbagai mekanisme regional ASEAN. Salah satunya adalah keinginan Turki untuk bergabung dalam kerangka kerja sama Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) serta memperkuat peran mereka sebagai pengamat dalam forum keamanan penting, yakni ASEAN Defence Ministers’ Meeting-Plus (ADMM-Plus).

Sektor energi dan mineral kritis menjadi poin krusial dalam diskusi tersebut. Mengingat Turki memiliki keunggulan sebagai pusat transit energi internasional, sementara ASEAN tengah gencar mengembangkan pasar energi yang berkelanjutan, kedua pihak sepakat untuk melakukan sinergi. Kerja sama ini tidak hanya mencakup perdagangan, tetapi juga alih teknologi, riset bersama, hingga pengembangan ekosistem manufaktur untuk mineral strategis yang sangat dibutuhkan di era transisi energi global saat ini.

Selain isu ekonomi dan keamanan, forum tersebut juga menaruh perhatian besar pada pengembangan sumber daya manusia berbasis digital. Rekomendasi yang muncul di antaranya adalah pembentukan Digital Skills Passport yang berbasis micro-credential untuk memfasilitasi mobilitas tenaga kerja terampil. Selain itu, terdapat usulan pendirian Digital Workforce Development Center serta penyelenggaraan Forum Pemuda ASEAN-Turki secara rutin setiap tahun. Langkah ini diharapkan mampu mempererat kolaborasi pendidikan vokasi dan mencetak talenta digital yang kompetitif di kancah internasional.

Upaya Turki untuk meningkatkan status kemitraannya dengan ASEAN bukanlah sebuah proses yang instan. Perjalanan diplomatik ini telah dimulai sejak lama, dimulai dengan bergabungnya Turki dalam Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) pada tahun 2010. Langkah tersebut kemudian diikuti dengan akreditasi Kedutaan Besar Turki untuk ASEAN pada 2011, serta keberhasilan memperoleh status Sectoral Dialogue Partner pada 2017. Puncaknya, Turki secara resmi telah mengajukan permohonan untuk menjadi Full Dialogue Partner ASEAN pada tahun 2024.

Dengan diselenggarakannya forum perdana ini, Ankara menunjukkan keseriusan penuh agar permohonan status kemitraan penuh tersebut segera mendapatkan dukungan dari negara-negara anggota ASEAN. Melalui dialog yang lebih intensif, Turki berharap dapat membuka pintu bagi peluang kerja sama yang jauh lebih luas. Sektor perdagangan, keamanan siber, digitalisasi, serta pengelolaan mineral kritis menjadi prioritas utama dalam peta jalan kerja sama Ankara dengan kawasan ini ke depannya.

Bagi negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia, kedekatan hubungan dengan Turki menawarkan akses yang lebih besar ke pasar Timur Tengah dan Eropa. Sebaliknya, bagi Turki, Asia Tenggara adalah pasar yang sedang berkembang pesat dengan potensi demografi yang sangat besar. Jika kemitraan ini berhasil ditingkatkan menjadi dialog penuh, maka akan tercipta ruang kolaborasi baru yang memperkuat posisi tawar kedua pihak di tengah kompetisi ekonomi global yang semakin ketat. Forum ASEAN-Turki di Jakarta ini kini menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan diplomatik kedua pihak yang akan terus dipantau perkembangannya dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All