Strategi Baru INA: Memacu Investasi Sektor Digital hingga Material Canggih untuk Ekonomi Masa Depan

Wibowo

Indonesia Investment Authority (INA) kini resmi mengalihkan fokus strategisnya ke sektor-sektor masa depan yang memiliki dampak jangka panjang bagi ekonomi nasional. Lembaga pengelola investasi atau sovereign wealth fund (SWF) Indonesia ini mulai menyasar pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), infrastruktur digital, hingga material canggih atau advance material. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk tidak sekadar mengejar keuntungan finansial, tetapi juga membawa nilai tambah yang signifikan bagi kepentingan domestik.

Dalam laporan tahunan yang disampaikan di Jakarta, Rabu (1/7/2026), Ketua Dewan Direktur sekaligus CEO INA, Oki Ramadhana, menegaskan bahwa perluasan portofolio ke sektor-sektor baru menjadi pilar penting dalam strategi jangka panjang perusahaan. Meski baru memimpin INA sejak 19 Mei lalu, Oki berkomitmen untuk melanjutkan trajektori bisnis yang telah dibangun dengan mengutamakan investasi yang memiliki dampak nyata sekaligus imbal hasil yang optimal.

Salah satu realisasi konkret dari fokus baru ini adalah pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik melalui kemitraan dengan perusahaan asal China, Changzou Liyuan. Melalui entitas PT LBM Energi Baru Indonesia, INA membangun fasilitas produksi katoda lithium iron phosphate (LFP) di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah. Proyek bernilai 200 juta dolar AS ini diproyeksikan menjadi fasilitas produksi katoda LFP terbesar di luar China, dengan kapasitas produksi mencapai 90.000 ton pada tahun 2025 mendatang.

Di sektor digital, INA juga tengah tancap gas menggarap proyek pembangunan hyperscale data center campus di Nongsa Digital Park, Batam. Bekerja sama dengan DayOne, perusahaan data asal Singapura, proyek dengan nilai investasi sekitar 600 juta dolar AS ini akan memiliki kapasitas mencapai 72 megawatt (MW). Kehadiran infrastruktur ini dipandang sangat krusial mengingat pertumbuhan pasar pusat data di Indonesia yang diprediksi akan melonjak dari 514 MW pada tahun 2023 menjadi 1,41 gigawatt (GW) pada tahun 2029.

Chief Investment Officer INA, Laksono W Widodo, menjelaskan bahwa sektor digital merupakan pilar pertumbuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Dengan posisi Indonesia sebagai salah satu basis pengguna platform digital terbesar di dunia, kebutuhan akan kapasitas komputasi yang mumpuni menjadi urgensi bagi generasi muda. Laksono menegaskan bahwa dalam setiap keputusan investasi, INA selalu memprioritaskan imbal hasil yang kompetitif sebelum mempertimbangkan manfaat strategis bagi kepentingan dalam negeri.

Selain sektor digital dan teknologi, INA juga tidak meninggalkan sektor-sektor tradisional yang memiliki potensi besar seperti layanan kesehatan, logistik, transportasi, dan energi hijau. Sebagai contoh, INA telah merambah ke sektor kesehatan melalui pembangunan fasilitas pengolahan produk obat derivat plasma. Proyek yang bekerja sama dengan perusahaan asal Korea Selatan, SK Plasma, ini menelan investasi sebesar 150 juta dolar AS. Fasilitas yang berlokasi di Karawang tersebut kini tengah memasuki tahap uji coba dan sertifikasi sebelum dijadwalkan beroperasi penuh pada akhir 2026 dengan kapasitas produksi mencapai 600.000 liter plasma darah.

Sepanjang periode 2021 hingga 2025, INA telah mencatatkan akumulasi investasi yang signifikan dengan total mencapai Rp 74,5 triliun atau setara dengan 4,7 miliar dolar AS. Dari angka tersebut, kontribusi porsi investasi INA sebesar Rp 33,3 triliun, sementara sisanya Rp 41,2 triliun berasal dari mitra investasi atau Foreign Direct Investment (FDI). Secara keseluruhan, total aset yang dikelola atau asset under management (AUM) INA bersama mitra investor telah mencapai Rp 146,2 triliun, meningkat 1,9 persen dibandingkan saat pertama kali INA didirikan pada tahun 2020.

Untuk tahun 2026, INA menargetkan tambahan investasi sebesar Rp 17 triliun hingga Rp 18 triliun dari kolaborasi dengan mitra investor global. Meskipun belum merinci daftar investor yang sedang dalam tahap negosiasi, manajemen INA memastikan bahwa tata kelola perusahaan tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga kepercayaan mitra. Chief Financial Officer INA, Eddy Porwanto, menyebutkan bahwa profesionalisme, kepercayaan, dan tata kelola yang transparan adalah tiga kunci utama yang membuat lembaga ini mampu berkembang pesat meskipun lahir di tengah tantangan pandemi Covid-19.

Prinsip transparansi ini juga ditekankan oleh Chief Legal Counsel INA, Arisia Pusponegoro. Menurutnya, seluruh prosedur investasi telah disesuaikan dengan standar global yang ketat. INA berkomitmen untuk memaparkan risiko secara terbuka kepada para mitra sejak awal, sehingga ekspektasi kedua belah pihak dapat selaras dan risiko sistemik dapat diminimalisir. Langkah-langkah mitigasi risiko inilah yang membuat INA tetap kompetitif di tengah persaingan antar-SWF di seluruh dunia.

Anggota Dewan Pengawas INA, Fauzi Ichsan, memberikan apresiasi atas performa lembaga ini yang dinilai cukup mengesankan dalam waktu relatif singkat. Ia menegaskan bahwa dalam dunia pengelolaan investasi global, kepercayaan atau trust adalah aset yang paling berharga. Sebagai institusi yang harus bersaing dengan SWF negara lain, INA dinilai telah berhasil membuktikan kapasitasnya sebagai mitra investasi yang kredibel. Proyek-proyek masa depan yang dijalankan, seperti fasilitas plasma darah, bukan hanya akan memberikan dampak bagi Indonesia tetapi juga berkontribusi pada skala global.

Menatap masa depan, Oki Ramadhana berharap INA dapat terus menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi nasional. Meski tidak menetapkan target spesifik secara mendetail untuk lima tahun ke depan, ia optimistis bahwa melalui penajaman fokus investasi pada sektor teknologi dan infrastruktur canggih, INA dapat memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Fokus pada efisiensi dan dampak investasi akan terus menjadi kompas bagi INA dalam menyeleksi peluang di masa depan, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko sistemik bagi perusahaan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All