Aktivitas mobilisasi masyarakat di Indonesia sepanjang bulan Mei 2026 menunjukkan tren yang cukup variatif di berbagai moda transportasi. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sektor transportasi nasional menghadapi tantangan penurunan jumlah penumpang pada hampir seluruh moda angkutan domestik, baik darat, laut, maupun udara. Meski demikian, kereta api masih tetap kokoh mempertahankan posisinya sebagai moda transportasi dengan volume penumpang tertinggi di tanah air.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (1/7/2026), bahwa secara bulanan atau month-to-month (mtm), hanya angkutan udara internasional yang mencatatkan pertumbuhan positif. Sementara itu, moda transportasi domestik lainnya seperti kereta api, angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP), angkutan laut, hingga penerbangan dalam negeri kompak mengalami kontraksi dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Moda transportasi kereta api tercatat melayani sebanyak 46,96 juta penumpang sepanjang Mei 2026. Angka ini memang mengalami koreksi tipis sebesar 2,73 persen jika dibandingkan dengan capaian pada April 2026. Namun, jika dilihat dari perspektif tahunan atau year-on-year (yoy) dibandingkan Mei 2025, terjadi pertumbuhan yang cukup menggembirakan sebesar 4,17 persen. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap transportasi berbasis rel tetap tinggi di tengah fluktuasi mobilitas bulanan.
Di sektor penyeberangan, ASDP mencatat jumlah penumpang sebanyak 4,51 juta orang pada Mei 2026. Perolehan ini menunjukkan penurunan 3,88 persen secara bulanan. Kendati demikian, apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, sektor ini menunjukkan pemulihan yang signifikan dengan lonjakan pertumbuhan mencapai 16,66 persen secara tahunan. Kondisi ini mencerminkan bahwa meskipun ada penurunan sesaat di bulan Mei, minat masyarakat terhadap transportasi antar pulau melalui jalur laut masih berada dalam tren yang positif dibandingkan tahun sebelumnya.
Tren serupa juga terlihat pada angkutan laut domestik yang mengangkut 2,66 juta orang. Volume penumpang di sektor ini turun 8,23 persen secara bulanan. Namun, secara tahunan, sektor angkutan laut domestik masih mampu tumbuh sebesar 6,45 persen dibandingkan Mei 2025. Perbedaan pola antara data bulanan dan tahunan ini memberikan gambaran bahwa meski mobilitas sempat melambat di bulan Mei, minat masyarakat untuk melakukan perjalanan laut tetap terjaga secara jangka panjang.
Sektor yang mengalami kontraksi paling dalam adalah angkutan udara domestik. Tercatat sebanyak 4,11 juta penumpang menggunakan moda transportasi udara dalam negeri sepanjang Mei 2026. Angka ini mengalami penurunan cukup tajam, yakni sebesar 10,11 persen dibandingkan bulan April 2026, bahkan anjlok 9,22 persen jika disandingkan dengan periode Mei 2025. Penurunan drastis ini mengindikasikan adanya kendala atau perubahan preferensi masyarakat dalam memilih moda transportasi udara untuk perjalanan domestik.
Berbanding terbalik dengan penerbangan domestik, angkutan udara internasional justru menjadi satu-satunya moda yang mencatatkan pertumbuhan positif secara bulanan. Sepanjang Mei 2026, tercatat sebanyak 1,65 juta penumpang internasional yang dilayani, naik 5,98 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski jika dibandingkan secara tahunan masih mengalami penurunan sebesar 6,41 persen dari Mei 2025, peningkatan bulanan ini menjadi angin segar di tengah kelesuan sektor transportasi udara domestik.
Tidak hanya sektor penumpang, data BPS juga menyoroti pergerakan angkutan barang yang menunjukkan dinamika berbeda. Untuk angkutan laut domestik, volume barang yang diangkut mencapai 42,69 juta ton pada Mei 2026. Angka ini tumbuh tipis 0,39 persen dibandingkan April 2026 dan naik 2,75 persen jika dibandingkan dengan Mei 2025. Stabilitas distribusi barang melalui jalur laut ini menjadi indikator penting bahwa arus logistik nasional masih tetap berjalan lancar meski mobilitas penumpang sempat melambat.
Peningkatan volume angkutan barang juga terjadi pada moda kereta api. Sepanjang Mei 2026, kereta api berhasil mengangkut 6,44 juta ton barang, meningkat 4,08 persen dari capaian bulan April 2026. Meskipun angka ini tercatat sedikit turun 0,99 persen dibandingkan Mei 2025, kinerja bulanan yang positif menunjukkan efektivitas kereta api dalam menunjang kebutuhan distribusi logistik di berbagai daerah yang terjangkau oleh jaringan rel.
Sebaliknya, angkutan barang melalui udara domestik mengalami tekanan yang cukup berat. Pada Mei 2026, total barang yang diangkut hanya mencapai 0,0496 ton, turun 0,6 persen secara bulanan dan merosot tajam sebesar 14,04 persen secara tahunan. Rendahnya volume kargo udara ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam efisiensi logistik melalui jalur udara yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor biaya operasional maupun penyesuaian strategi dari para penyedia jasa angkutan.
Secara keseluruhan, data transportasi pada Mei 2026 ini memberikan gambaran tentang fluktuasi ekonomi dan mobilitas masyarakat di Indonesia. Perlambatan di sektor angkutan penumpang domestik, terutama moda udara, menjadi catatan penting bagi para pemangku kepentingan untuk mengevaluasi faktor penyebab di balik penurunan tersebut. Di sisi lain, ketahanan sektor kereta api dalam melayani jutaan penumpang dan kelancaran arus logistik melalui angkutan laut menjadi pilar penopang utama aktivitas ekonomi nasional. Pemerintah dan operator transportasi diharapkan dapat terus memantau tren ini untuk memastikan kelancaran konektivitas serta distribusi barang di masa mendatang agar roda perekonomian nasional tetap berputar secara optimal.











