Saturday, 12 September 2026
BREAKING
KESEHATAN

Diskriminasi Usia Hambat Diagnosis dan Perawatan Pasien Rematologi

Oleh Rini Widiyarti September 12, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Praktik diskriminasi berdasarkan usia atau ageism dalam perawatan rematologi kerap kali berawal dari stereotip terhadap pasien lanjut usia. Fenomena ini diperparah oleh faktor-faktor struktural yang memengaruhi keputusan medis para dokter spesialis. Hal ini diungkapkan oleh Jiha Lee, MD, seorang asisten profesor klinis rematologi di University of Michigan.

Menurut Dr. Lee, usia pasien menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan pengobatan oleh dokter rematologi. “Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa usia menduduki peringkat kedua setelah aktivitas penyakit, dan setara dengan perubahan erosif, sebagai faktor yang memengaruhi keputusan dokter rematologi mengenai pengobatan,” ujar Dr. Lee dalam sebuah wawancara dengan Healio. Ia menambahkan, “Semakin tua Anda, semakin kecil kemungkinan Anda akan diobati. Itu murni angka, usia pasien.”

Stereotip yang melekat pada pasien usia lanjut sering kali mengarah pada asumsi bahwa penurunan fungsi fisik atau nyeri yang mereka alami adalah bagian normal dari penuaan, bukan gejala penyakit rematik yang memerlukan intervensi medis. Hal ini dapat menyebabkan penundaan dalam diagnosis dan pengobatan yang memadai. Akibatnya, kondisi pasien bisa memburuk sebelum mendapatkan penanganan yang tepat.

Faktor struktural yang dimaksud meliputi bias implisit yang mungkin dimiliki oleh tenaga medis, serta sistem perawatan kesehatan yang belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan spesifik pasien lanjut usia dengan penyakit rematik. Kurangnya alat diagnostik yang sensitif terhadap perubahan fisiologis terkait usia atau protokol pengobatan yang disesuaikan dapat semakin memperburuk masalah ageism.

Dr. Lee menekankan pentingnya kesadaran akan bias usia ini dalam komunitas medis. “Kita perlu secara aktif melawan asumsi bahwa usia tua berarti penurunan fungsi yang tak terhindarkan atau bahwa pasien yang lebih tua tidak akan mendapat manfaat dari pengobatan agresif,” tegasnya. Upaya multidimensional diperlukan, mulai dari edukasi bagi para profesional kesehatan hingga pengembangan pedoman klinis yang lebih inklusif dan peka terhadap usia.

Perubahan paradigma ini krusial untuk memastikan bahwa semua pasien, terlepas dari usia mereka, menerima diagnosis yang akurat dan perawatan yang optimal untuk kondisi rematik mereka, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp