Indonesia Intip Model Swiss: Investasi Teknologi dan Ekosistem Inovasi Kunci Hilirisasi Riset Nasional

Wibowo

Bern, Swiss – Indonesia kini memandang Swiss sebagai model strategis dalam upaya keluar dari jerat negara berpendapatan menengah. Pengembangan ekonomi yang bertumpu pada inovasi menjadi kunci, dengan penekanan pada penguatan investasi teknologi guna mendorong hilirisasi riset secara efektif. Tantangan besar yang dihadapi pelaku industri di Tanah Air adalah transfer teknologi, sebuah mata rantai krusial yang masih terputus dalam ekosistem inovasi Indonesia.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Komite Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Francis Wanandi, saat ditemui di Wisma KBRI, Bern, Swiss, pada Minggu (28/6/2026). Menurutnya, interkoneksi yang kuat adalah fondasi utama dalam melaksanakan hilirisasi riset. Sayangnya, masih terdapat kesenjangan signifikan dalam mata rantai proses pengembangan produk berbasis teknologi di Indonesia, sehingga membutuhkan pihak yang mampu menjembatani inovasi dari hulu hingga ke hilir. Kesenjangan ini menjadi penghalang utama bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pasar, melainkan juga pemain global dalam produk-produk inovatif.

Duta Besar RI untuk Swiss, I Gede Ngurah Swajaya, menyoroti bagaimana Swiss secara cerdik mampu mengubah momen krisis menjadi peluang emas untuk investasi dan pengembangan riset. Ia memberikan contoh sektor-sektor seperti industri jam tangan presisi Swiss yang mendunia, riset medis canggih, hingga genomik. "Jadi, krisis justru mempercepat inovasi," tegas Swajaya, menggambarkan mentalitas adaptif dan progresif yang dimiliki negara tersebut.

Di Swiss, pengembangan ekonomi berbasis teknologi tidak berjalan sporadis, melainkan melalui pembentukan ekosistem inovasi yang terstruktur dan solid. Ekosistem ini melibatkan berbagai lembaga yang secara sinergis menjalankan fungsi hilirisasi riset. Mereka berperan sebagai jembatan vital antara hasil riset dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian dengan kebutuhan konkret industri, memastikan bahwa inovasi tidak hanya berhenti di jurnal ilmiah.

Pusat-pusat riset di Swiss bersifat spesifik dan saling melengkapi, mencakup bidang-bidang mutakhir seperti robotik, ortopedi, medis, dan genomik. Adanya sinergi yang kuat antara universitas sebagai sumber ilmu pengetahuan, industri sebagai penggerak ekonomi, dan pemerintah sebagai regulator serta fasilitator, menciptakan lingkungan yang kondusif. Kolaborasi erat ini pada akhirnya mampu memberikan nilai tambah yang signifikan pada produk-produk yang dihasilkan, menjadikannya kompetitif di pasar global.

Sebagai ilustrasi keberhasilan model ini, Duta Besar Swajaya menunjuk Centre Suisse d’Electronique et de Microtechnique (CSEM) sebagai contoh nyata. Pusat inovasi teknologi elektronik dan mikroteknologi Swiss ini berhasil melahirkan beragam inovasi teknologi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan industri. Hasilnya dapat dilihat dari komponen jam tangan merek-merek ternama Swiss yang terkenal presisi, alat kesehatan canggih yang menyelamatkan jiwa, hingga panel surya yang efisien dan ramah lingkungan.

Bahaa Roustorn, Wakil Presiden Pemasaran dan Pengembangan Bisnis CSEM, yang menerima kunjungan delegasi jurnalis dari Kompas Gramedia Group, termasuk Harian Kompas, di kantor CSEM, Neuchâtel, Swiss, pada Jumat (26/6/2026), menegaskan filosofi tersebut. "Ketika ada krisis, berinvestasilah pada inovasi," ujarnya. Ia menyayangkan kecenderungan banyak negara yang justru memangkas anggaran riset saat krisis ekonomi melanda, menganggapnya sebagai pengeluaran yang bisa ditunda. Padahal, inovasi adalah kunci fundamental bagi pelaku industri untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan daya saing mereka di tengah gejolak pasar. "Berinovasi menjadi solusi saat krisis," imbuhnya, menekankan pentingnya visi jangka panjang.

Investasi di Swiss tidak semata-mata berfokus pada riset di perguruan tinggi sebagai tahap awal pengembangan teknologi. Prioritas investasi justru dialokasikan pada tahap pematangan teknologi dan transfer teknologi. Ini mencakup transisi dari riset dasar hingga menjadi produk inovasi yang siap pakai dan memiliki nilai komersial sesuai kebutuhan industri. Pendekatan ini secara efektif menghindari apa yang disebut sebagai "lembah kematian" (valley of death), yakni jurang antara temuan riset di laboratorium perguruan tinggi dan implementasi praktisnya di sektor industri.

CSEM sendiri merupakan entitas inovasi teknologi nirlaba yang didirikan sebagai gabungan kepemilikan pemerintah dan swasta. Komposisi sahamnya mencerminkan kemitraan strategis ini, dengan 73 persen dimiliki oleh pihak swasta dan 27 persen oleh pemerintah federal serta daerah Neuchâtel. Struktur kepemilikan hibrida ini memungkinkan CSEM untuk bertindak lincah dalam pengambilan keputusan sekaligus melayani ekosistem industri nasional secara optimal. Peran CSEM sangat krusial dalam melaksanakan industrialisasi inovasi Swiss, yang pada gilirannya membangun citra Swiss sebagai produsen produk-produk inovatif dan presisi tinggi di mata dunia.

Rantai nilai inovasi yang dikembangkan di Swiss adalah model yang komprehensif dan terintegrasi. Dimulai dari pengembangan riset dasar yang dilakukan oleh perguruan tinggi, dilanjutkan dengan penelitian terapan yang lebih fokus pada aplikasi. Kemudian, CSEM mengambil peran sentral sebagai pusat inovasi yang melaksanakan transfer teknologi, hingga pengembangan produk mencapai tahap industrialisasi massal. Proses ini memastikan bahwa setiap tahapan riset memiliki jalur yang jelas menuju pemanfaatan komersial.

Bahaa menjelaskan bahwa CSEM fokus pada tiga area riset utama yang strategis: teknologi digital, manufaktur presisi, dan energi berkelanjutan. Sumber pendanaan untuk transfer teknologi di CSEM pada tahun 2025 menunjukkan adanya kontribusi signifikan dari industri melalui proyek-proyek kolaborasi, dan sebagian lainnya berasal dari kontribusi pemerintah federal maupun daerah. Model pendanaan yang beragam ini menunjukkan komitmen kolektif dari berbagai pihak terhadap keberlanjutan inovasi dan pengembangan teknologi nasional.

Bagi Indonesia, pengalaman Swiss ini menawarkan pelajaran berharga dan mendalam. Untuk keluar dari "jebakan pendapatan menengah" dan bertransformasi menjadi negara berpendapatan tinggi yang kompetitif, investasi pada infrastruktur transfer teknologi dan pembangunan ekosistem inovasi yang terintegrasi adalah sebuah keniscayaan. Sinergi yang kuat antara akademisi, pebisnis, dan pemerintah, seperti yang dicontohkan Swiss, menjadi fondasi utama untuk mewujudkan hilirisasi riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberikan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan dan menempatkan Indonesia pada peta inovasi global.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All