JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi (PT) di Indonesia untuk fokus mendalami sains dan teknologi demi memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat yang telah membiayai lembaga pendidikan tersebut. Penekanan ini disampaikan Presiden saat menutup Sarasehan Kebangsaan yang menjadi bagian dari Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Tahun 2026 di Jakarta, Minggu (28/6/2026).
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menghendaki seluruh potensi bangsa, termasuk perguruan tinggi, untuk bersatu padu mengerahkan pemikiran dan inisiatif demi kebaikan, ketahanan, serta kelangsungan hidup bangsa. Ia mengingatkan bahwa kebebasan akademik yang dimiliki kampus harus dimanfaatkan sebagai arena mengadu gagasan, pandangan, filosofi, dan inovasi yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat dan negara. Kebebasan tersebut, menurutnya, bukan kebebasan yang mengarah pada pertentangan, melainkan kebebasan untuk aktif menggeluti sains dan teknologi.
Acara Sarasehan Kebangsaan tersebut dihadiri oleh sekitar 2.600 unsur pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta, akademisi, serta perwakilan industri, selain sejumlah menteri. Presiden Prabowo juga turut hadir pada sesi pembukaan yang berlangsung pada Jumat sore, 26 Juni 2026. Meskipun pidatonya dalam forum pembukaan yang berlangsung lebih dari lima jam itu tertutup bagi jurnalis, Presiden menyatakan bahwa suasana forum berlangsung positif dengan adanya pertukaran keterangan dan pandangan yang konstruktif.
Presiden Prabowo secara lugas mengungkapkan kebutuhannya akan dukungan dari kalangan intelektual. “Benar, saya butuh jumpa dengan orang-orang pintar,” ujarnya, seraya menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang tekun mengikuti sarasehan. Ia berjanji akan menindaklanjuti daftar usulan dan pertanyaan yang telah disampaikan, bahkan menegaskan bahwa usulan dari masyarakat desa sekalipun akan segera diperhatikan dan ditindaklanjuti. Harapannya, para cendekiawan dari perguruan tinggi dapat membantu bangsa menghadapi berbagai kesulitan dengan mencari solusi inovatif.
Dalam konteks kemajuan teknologi, Presiden menyoroti dua contoh krusial: nuklir dan kecerdasan buatan (AI). Ia menjelaskan bahwa nuklir, meskipun memiliki potensi luar biasa dalam menghasilkan energi murah dan bersih, serta aplikasi di bidang medis dan pertanian, juga menyimpan bahaya besar yang dapat mengancurkan peradaban. Demikian pula dengan AI, yang perkembangannya sangat pesat hingga munculnya ‘Agent AI’ yang mampu bekerja mandiri dan berkomunikasi dalam bahasa kode mereka sendiri. Fenomena ini, menurut Presiden, menuntut para guru besar dan profesor untuk mendalami lebih jauh implikasinya bagi manusia.
Pada sesi penutupan, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Eduart Wolok, menyampaikan berbagai pertanyaan dan masukan dari peserta. Usulan tersebut mencakup peningkatan biaya riset melalui penyisihan keuntungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Danantara, serta peningkatan beasiswa bagi mahasiswa dan beasiswa doktoral bagi dosen. Selain itu, terdapat masukan untuk mendukung kerja sama perguruan tinggi daerah dengan institusi luar negeri, serta strategi pemerintah dalam pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir demi meningkatkan nilai tambah industri nasional.
Menanggapi masukan tersebut, Presiden Prabowo memberikan respons positif. “Sepintas, saya baca tadi, saya dengar banyak usul yang sangat baik, sangat masuk akal, dan akan segera kita tindak lanjuti,” katanya. Ia secara khusus menyoroti usulan alokasi beasiswa doktor bagi dosen di perguruan tinggi negeri maupun swasta sebagai usulan yang sangat baik dan akan segera ditindaklanjuti oleh pemerintah. Komitmen ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pendidikan tinggi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menambahkan bahwa sebagai tindak lanjut dari pertemuan penting ini, Presiden telah meminta Kemendiktisaintek dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk membentuk satuan tugas (satgas) atau kelompok kerja (pokja). Satgas ini akan beranggotakan insan-insan perguruan tinggi, yaitu dosen, dan peneliti dari BRIN, untuk mengkaji lebih lanjut berbagai isu strategis bersama kementerian teknis terkait. Tujuannya adalah untuk mempercepat pencapaian target-target program strategis pemerintah melalui sumbangsih pemikiran dan inovasi dari kalangan akademik.
Brian Yuliarto menjelaskan bahwa kelompok kerja tematik yang akan dibentuk Kemendiktisaintek ini akan menjadi wadah vital untuk mengonsolidasikan kepakaran nasional. Hal ini diharapkan dapat mempercepat penyusunan solusi berbasis riset serta memastikan bahwa hasil-hasil akademik dan riset dapat diterjemahkan menjadi kebijakan teknologi dan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat luas. Presiden juga mengingatkan kembali bahwa perguruan tinggi adalah ruang kebebasan akademik, di mana gagasan-gagasan harus dikaji dan didiskusikan untuk mencari solusi serta mempercepat kemajuan bangsa.
Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, menurut Brian, memiliki keinginan kuat untuk memanfaatkan sebanyak-banyaknya orang pintar di Indonesia, terutama para guru besar dari perguruan tinggi. Presiden memandang perguruan tinggi sebagai pemimpin dan elite di sektor sains dan teknologi, yang memiliki tanggung jawab besar untuk mengidentifikasi masalah, berani menghadapinya, dan menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat.
Lebih lanjut, Brian menyampaikan pesan Presiden agar para insan perguruan tinggi, ilmuwan, dan teknokrat berani berpikir besar, bertindak cepat, berani mengambil keputusan-keputusan, serta tentunya menghadirkan solusi konkret. “Semoga ini merupakan satu kondisi di mana pemerintah bersama semua ilmuwan, peneliti, akademisi, dan guru besar memiliki hubungan yang erat dalam menghadirkan solusi-solusi terhadap berbagai permasalahan bangsa,” pungkas Brian, optimistis terhadap kolaborasi yang lebih erat ke depan.
Kepala BRIN, Arif Satria, turut menyampaikan bahwa BRIN dan Kemendiktisaintek telah menyiapkan peta jalan riset yang akan menjadi acuan strategis untuk mendorong kemajuan bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045. Peta jalan riset ini akan memberikan panduan mengenai teknologi yang akan dikembangkan, sekaligus arah industrialisasi yang berkelanjutan. Kolaborasi kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga riset ini diharapkan menjadi kunci utama dalam mewujudkan inovasi dan kemandirian teknologi Indonesia di masa depan.











