Palembang diselimuti kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Sumatera Selatan. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas udara di ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, yang dilaporkan telah mencapai level sangat tidak sehat.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi partikel halus PM2.5 di Palembang tercatat sangat tinggi. Angka ini mencapai 235,6 mikrogram per meter kubik (ยตg/mยณ), jauh melampaui ambang batas aman yang ditetapkan untuk kualitas udara.
Tingginya kadar PM2.5 ini menjadi indikator utama buruknya kualitas udara yang dihirup warga. Partikel halus ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Pemerintah daerah dan berbagai instansi terkait terus berupaya memadamkan titik api yang menjadi sumber utama asap. Namun, luasnya area karhutla dan kondisi cuaca yang kering membuat upaya pemadaman menjadi tantangan tersendiri.
Masyarakat Palembang diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika terpaksa harus keluar rumah. Ketersediaan air bersih untuk membasuh muka dan tenggorokan juga disarankan untuk meredakan iritasi akibat paparan asap.
Situasi ini menuntut perhatian serius dari semua pihak. Upaya pencegahan karhutla yang lebih efektif, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, serta mitigasi dampak kesehatan bagi masyarakat menjadi prioritas utama dalam menghadapi krisis asap ini.
