Anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terdampak abu vulkanik. Dokter spesialis anak mengingatkan orang tua untuk mewaspadai gejala iritasi pernapasan yang mungkin muncul pada buah hati mereka pasca erupsi gunung berapi.
Menurut dr. Fira, Sp.A, gejala iritasi pernapasan pada anak akibat abu vulkanik umumnya mirip dengan gejala batuk pilek biasa. Namun, ada beberapa ciri khas yang perlu diperhatikan. “Gejala yang paling sering muncul adalah batuk yang berkelanjutan, hidung meler, dan mata merah atau berair,” jelas dr. Fira.
Selain itu, anak yang terpapar abu vulkanik juga bisa mengalami sakit tenggorokan. “Mereka mungkin mengeluh tenggorokannya terasa tidak nyaman atau gatal,” tambahnya.
Dokter Fira menekankan pentingnya pemantauan lebih lanjut jika gejala tersebut tidak kunjung membaik atau justru semakin parah. “Apabila anak terus batuk, sesak napas, atau mengalami kesulitan bernapas, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” sarannya. Ia juga mengingatkan bahwa abu vulkanik dapat memperburuk kondisi anak yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma.
Paparan abu vulkanik dapat terjadi melalui beberapa cara. Partikel halus abu vulkanik dapat terhirup langsung oleh anak saat bermain di luar ruangan. Selain itu, abu yang menempel pada pakaian atau permukaan benda lain juga bisa menjadi sumber paparan jika tersentuh dan kemudian anak menyentuh wajah atau mulutnya.
Oleh karena itu, dr. Fira menyarankan beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan orang tua. “Jika ada erupsi, sebaiknya anak tetap berada di dalam rumah. Jendela dan pintu sebaiknya ditutup rapat untuk mencegah abu masuk,” tuturnya. Jika memang harus keluar rumah, anak disarankan menggunakan masker yang sesuai, terutama masker N95 yang lebih efektif menyaring partikel halus.
Membersihkan diri setelah beraktivitas di luar rumah juga menjadi kunci. “Mandikan anak dan bersihkan area mata serta hidung dengan air bersih,” kata dr. Fira. Ia juga mengingatkan untuk membersihkan permukaan benda-benda di rumah yang mungkin terpapar abu vulkanik.
Dalam kasus tertentu, abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi yang lebih serius. “Jika gejala semakin berat, seperti demam tinggi, muntah, atau anak terlihat sangat lemas, jangan tunda untuk memeriksakan ke dokter,” tegas dr. Fira. Dengan kewaspadaan dan tindakan pencegahan yang tepat, risiko kesehatan anak akibat abu vulkanik dapat diminimalkan.
