Penelitian terbaru mengungkapkan adanya kaitan kuat antara keparahan penyakit pembuluh darah dengan risiko malnutrisi pada pasien sklerosis sistemik tahap awal. Temuan ini berpotensi mengubah cara dokter mendiagnosis dan menangani kondisi yang seringkali terabaikan ini.
Data yang dipublikasikan dalam jurnal Arthritis Care & Research menunjukkan bahwa gangguan pada pembuluh darah, ditambah dengan obstruksi usus semu (intestinal pseudo-obstruction), merupakan prediktor signifikan dari penurunan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kemungkinan malnutrisi.
“Malnutrisi adalah masalah umum namun seringkali tidak dikenali pada penderita sklerosis sistemik,” ujar Dr. Zsuzsanna McMahan, MD, MHS, co-director UTHealth Houston Scleroderma Center. Ia juga merupakan profesor madya kedokteran di divisi reumatologi McGovern Medical School di University of Texas Health Science Center.
Dr. McMahan menambahkan, meskipun IMT rutin digunakan dalam praktik klinis, data terkait hubungannya dengan malnutrisi pada sklerosis sistemik masih terbatas. Sklerosis sistemik, sebuah penyakit autoimun kronis, dapat memengaruhi berbagai organ tubuh, termasuk kulit, pembuluh darah, dan saluran pencernaan.
Penyempitan atau kerusakan pada pembuluh darah (penyakit vaskular) dapat mengganggu aliran darah ke berbagai organ. Pada saluran pencernaan, kondisi ini dapat menyebabkan perlambatan gerakan usus, yang dikenal sebagai obstruksi usus semu. Gejala ini seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman, mual, muntah, dan kesulitan makan.
Akibatnya, pasien sklerosis sistemik yang mengalami penyakit vaskular parah dan obstruksi usus semu cenderung mengalami penurunan berat badan dan kesulitan menyerap nutrisi dengan baik. Hal ini pada akhirnya meningkatkan risiko mereka mengalami malnutrisi.
Penelitian ini melibatkan sejumlah pasien sklerosis sistemik dalam tahap awal penyakit. Para peneliti menganalisis data klinis mereka, termasuk penilaian keparahan penyakit vaskular dan keberadaan obstruksi usus semu, serta mengukur IMT mereka.
Hasil analisis secara konsisten menunjukkan bahwa pasien dengan tingkat keparahan penyakit vaskular yang lebih tinggi dan gejala obstruksi usus semu yang lebih nyata memiliki IMT yang lebih rendah. Ini menjadi sinyal peringatan dini mengenai potensi malnutrisi.
Temuan ini sangat penting bagi para dokter, terutama spesialis reumatologi dan gastroenterologi, untuk lebih proaktif dalam mengevaluasi status gizi pasien sklerosis sistemik. Pendekatan yang lebih komprehensif dalam penilaian, yang mencakup evaluasi ketat terhadap kondisi vaskular dan pencernaan, dapat membantu mendeteksi malnutrisi lebih awal.
Deteksi dini malnutrisi memungkinkan intervensi nutrisi yang tepat waktu, seperti perubahan pola makan, suplementasi nutrisi, atau bahkan terapi nutrisi enteral atau parenteral jika diperlukan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, memperlambat progresi penyakit, dan mencegah komplikasi lebih lanjut yang terkait dengan kekurangan gizi.
Para peneliti menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme pasti di balik hubungan ini dan mengembangkan strategi skrining yang lebih efektif. Namun, bukti awal ini sudah cukup kuat untuk mendorong perhatian medis yang lebih besar terhadap peran penyakit pembuluh darah dalam memprediksi risiko malnutrisi pada penderita sklerosis sistemik.
