Perempuan yang menduduki posisi kepemimpinan di dunia medis, khususnya dalam bidang reumatologi, dihadapkan pada fenomena ‘glass cliff’ atau jurang kaca. Fenomena ini merujuk pada kecenderungan perempuan untuk menduduki posisi kepemimpinan yang lebih berisiko atau dalam situasi yang kurang stabil. Hal ini diungkapkan oleh seorang presenter pada konferensi tahunan Association of Women in Rheumatology (AWIR).
Meskipun mayoritas dokter spesialis reumatologi di Amerika Serikat adalah perempuan, mereka menghadapi ketidaksetaraan finansial yang signifikan. Sheetal Desai, MD, MSEd, Kepala Divisi Reumatologi dan Profesor Madya di Departemen Kedokteran di University of California, Irvine, School of Medicine, memaparkan bahwa para dokter wanita ini diperkirakan akan memperoleh pendapatan sekitar 2 juta dolar AS lebih sedikit sepanjang karier mereka dibandingkan rekan pria mereka.
Dr. Desai menyatakan kekecewaannya atas kondisi ini. “Sangat membuat frustrasi,” ujarnya kepada para peserta konferensi. Ia menekankan pentingnya para pemimpin wanita di bidang kedokteran untuk secara aktif memperjuangkan sumber daya yang dibutuhkan. Advokasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas institusi atau departemen tempat mereka bekerja, guna mengatasi kesenjangan yang ada.
Dalam konteks ini, para profesional wanita di bidang reumatologi tidak hanya dituntut untuk unggul dalam praktik klinis, tetapi juga harus mampu menavigasi tantangan struktural yang menghambat kemajuan karier dan kesetaraan finansial mereka. Fenomena ‘glass cliff’ menjadi sorotan, menunjukkan bahwa kemajuan dalam representasi perempuan di posisi puncak belum serta merta menghilangkan hambatan-hambatan terselubung yang membatasi potensi penuh mereka.
