Bagi Anda yang terpikat dengan petualangan multiversal dan humor inventif dalam ‘Stuart Fails to Save the Universe’, ada satu film yang tak boleh terlewatkan: ‘Everything Everywhere All at Once’. Serial spin-off dari ‘The Big Bang Theory’ ini berhasil memukau penonton dengan fokus pada karakter pendukung dan eksplorasi konsep multiversal yang liar. Jika Anda mencari tontonan yang menggabungkan nuansa nostalgia dengan kesegaran ide, penuh imajinasi, dan hati yang tulus, film ini adalah jawabannya.
Disutradarai oleh Daniel Kwan dan Daniel Scheinert (dikenal sebagai the Daniels), ‘Everything Everywhere All at Once’ mengisahkan Evelyn Quan Wang (Michelle Yeoh), seorang imigran Tiongkok paruh baya yang hidupnya dilanda kekecewaan. Bisnis laundry-nya merugi, hubungannya dengan ayah (James Hong), suami (Ke Huy Quan), dan putri (Stephanie Hsu) renggang, bahkan ia harus menghadapi audit IRS. Di tengah wawancara pajak tersebut, tubuh Evelyn tiba-tiba dikendalikan oleh versi alternatif suaminya, Waymond. Ia diberitahu bahwa keberadaan multiversal adalah nyata, dan Evelyn harus mengakses keahlian dari berbagai versi dirinya untuk menyelamatkan alam semesta dari ancaman Jobu Tupaki, yang ternyata adalah versi lain dari putrinya, Joy.
Mirip dengan ‘Stuart Fails to Save the Universe’ yang sering berpindah antar dunia alternatif, ‘Everything Everywhere All at Once’ akan membawa penonton dalam perjalanan visual yang memukau. Evelyn akan menjelajahi berbagai realitas, mulai dari menjadi bintang film laga, ilmuwan, koki teppanyaki, hingga sosok aneh dengan jari-jari sosis (dalam satu semesta di mana fenomena itu normal), dan bahkan menjadi batu literal dalam momen yang menyentuh. Pergumulan Evelyn untuk memahami eksistensinya di tengah kekacauan multiversal dan serangan Jobu Tupaki menjadi inti cerita yang menegangkan sekaligus menghibur.
Lebih dari sekadar aksi multiversal, film ini juga menggali kedalaman emosional. Evelyn terpilih karena ia dianggap sebagai versi terburuk dari dirinya, yang berarti ia memiliki potensi terbesar. Perjalanan emosionalnya dari nihilisme menuju penerimaan dan cinta, saat ia berjuang demi orang-orang yang dicintainya, sangat kuat. Film ini memanfaatkan konsep multiversal untuk membangun karakter, menunjukkan bagaimana individu biasa dengan masalah sehari-hari dapat menghadapi tantangan luar biasa. Ditambah lagi, adegan pertarungan Waymond yang menggunakan keterampilan dari tas pinggang yang diunduh dari semesta lain, menjamin hiburan yang tak terlupakan.
Bagi Anda yang masih haus akan cerita bertema multiversal setelah menonton ‘Stuart Fails to Save the Universe’, film-film berikut juga patut dipertimbangkan. ‘The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy’ (2005) menawarkan humor absurd dan perjalanan antar semesta yang aneh. ‘Deadpool & Wolverine’ (2024) menyajikan humor sarkastik dan kekerasan khas superhero dengan sentuhan emosional. Jika mencari sesuatu yang lebih sureal, ‘The Adventures of Buckaroo Banzai Across the 8th Dimension’ (1984) adalah pilihan unik. Terakhir, ‘John Dies at the End’ (2013) menyajikan narasi kompleks yang melintasi waktu dan dimensi dengan gaya yang liar dan lucu.
