Vanuatu, negara kepulauan kecil di Pasifik, secara resmi membuka kantor kedutaan besar di Yerusalem. Langkah ini menandai dukungan penuh negara tersebut terhadap Israel dan keputusan strategis untuk memposisikan diri di jantung ibu kota yang disengketakan.
Keputusan ambisius ini diumumkan melalui sebuah upacara pada hari Selasa, 16 Mei 2023. Peresmian kantor kedutaan ini secara langsung dihadiri oleh perwakilan dari kedua negara, termasuk Menteri Luar Negeri Israel, Eli Cohen, dan Perdana Menteri Vanuatu, Ishmael Kalsakau. Kehadiran para petinggi negara ini menegaskan keseriusan dan signifikansi momen tersebut.
Dalam sambutannya, Menteri Luar Negeri Israel, Eli Cohen, menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan Vanuatu. Ia menyatakan, “Ini adalah hari yang sangat penting bagi hubungan antara Israel dan Vanuatu.” Cohen juga menyoroti pentingnya langkah ini dalam memperkuat hubungan bilateral dan menggarisbawahi pengakuan Vanuatu terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel. “Kami berterima kasih atas pengakuan Anda terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” tambahnya.
Perdana Menteri Vanuatu, Ishmael Kalsakau, dalam pernyataannya, menegaskan komitmen negaranya untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan Israel. Ia mengungkapkan bahwa keputusan membuka kedutaan di Yerusalem merupakan bagian dari upaya Vanuatu untuk memperluas jaringan diplomatiknya dan memperkuat kemitraan dengan negara-negara sahabat. “Kami sangat senang bisa membuka kedutaan kami di sini, di Yerusalem,” ujar Kalsakau. Ia menambahkan bahwa hubungan dengan Israel telah terjalin lama dan Vanuatu ingin memperkuatnya lebih lanjut.
Langkah Vanuatu ini menjadi sorotan internasional, mengingat status Yerusalem yang masih menjadi isu sensitif dalam konflik Israel-Palestina. Keputusan untuk membuka kedutaan di Yerusalem, yang diklaim oleh Israel sebagai ibu kotanya yang abadi, seringkali menuai reaksi beragam dari komunitas internasional.
