Badan sepak bola Eropa, UEFA, menyatakan ‘kehilangan kepercayaan’ terhadap kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino. UEFA menilai Infantino telah ‘gagal memenuhi’ janji-janji yang diucapkannya saat terpilih 10 tahun lalu.
Pernyataan tegas dari UEFA ini muncul menyusul serangkaian kekecewaan terhadap arah organisasi sepak bola dunia di bawah kepemimpinan Infantino. Organisasi yang berbasis di Nyon, Swiss, ini merasa FIFA tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam berbagai aspek krusial.
Sumber internal UEFA yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran mendalam mengenai transparansi dan tata kelola FIFA. “Ada kesenjangan besar antara retorika dan realitas,” ujar sumber tersebut. “Janji-janji reformasi yang digaungkan Infantino sejak awal masa jabatannya belum terealisasi sepenuhnya, terutama terkait akuntabilitas dan distribusi sumber daya yang adil ke federasi-federasi anggota.”
Kritik UEFA tidak hanya berhenti pada masalah tata kelola. Mereka juga menyoroti keputusan-keputusan strategis FIFA yang dinilai kurang mempertimbangkan kepentingan sepak bola di tingkat akar rumput dan kompetisi domestik. Ada pandangan bahwa fokus FIFA terlalu bergeser ke arah komersialisasi dan turnamen besar, mengabaikan pengembangan sepak bola di negara-negara yang kurang berkembang.
Perbedaan pandangan ini semakin memperdalam jurang antara UEFA, yang merupakan konfederasi sepak bola paling kuat di dunia, dengan FIFA. UEFA telah lama menjadi kekuatan penyeimbang dalam pengambilan keputusan di badan sepak bola internasional, dan sikap kritis mereka kali ini dapat memberikan tekanan signifikan bagi Infantino untuk melakukan perubahan nyata.
Meskipun demikian, Infantino sendiri masih memiliki dukungan dari mayoritas federasi sepak bola anggota FIFA. Namun, sikap tegas dari UEFA ini berpotensi menggoyahkan posisinya dan membuka ruang diskusi lebih luas mengenai masa depan kepemimpinan FIFA. FIFA sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan dari UEFA tersebut.
