Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menimbulkan ketegangan internasional setelah merilis peta baru yang secara kontroversial mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah teritorial Amerika Serikat. Klaim ini muncul di tengah memanasnya hubungan antara AS dan Iran, menambah kompleksitas situasi geopolitik di kawasan tersebut.
Peta baru yang dirilis oleh Gedung Putih tersebut menunjukkan perluasan klaim maritim Amerika Serikat hingga mencakup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global. Pernyataan Trump mengenai peta ini sontak memicu reaksi keras dari pemerintah Iran.
Televisi Nasional Iran melaporkan bahwa Kementerian Luar Negeri Iran dengan tegas menolak klaim Amerika Serikat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi, menyatakan, “Klaim tersebut tidak memiliki dasar hukum dan tidak akan pernah diterima oleh Iran.” Ia menambahkan bahwa tindakan semacam ini hanya akan memperburuk hubungan bilateral dan berpotensi meningkatkan eskalasi konflik.
Kontroversi ini berakar pada ketegangan yang telah berlangsung lama antara kedua negara, yang semakin memanas sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir Iran pada tahun 2018. Sejak saat itu, AS telah menerapkan sanksi ekonomi yang ketat terhadap Iran, yang dibalas dengan peningkatan aktivitas militer Iran di kawasan Teluk Persia.
Selat Hormuz, yang memisahkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak mentah dari negara-negara produsen minyak di Timur Tengah menuju pasar global. Sekitar 20% dari total pasokan minyak dunia melewati selat ini setiap harinya. Oleh karena itu, setiap klaim atau ancaman terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz memiliki implikasi ekonomi dan keamanan yang sangat luas.
Pemerintah Iran sebelumnya telah berulang kali menegaskan haknya untuk mengontrol Selat Hormuz dan mengancam akan menutupnya jika kepentingannya terancam. Klaim baru dari AS ini dipandang oleh Iran sebagai provokasi yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan dan isolasi terhadap Teheran.
Para pengamat internasional khawatir bahwa pernyataan dan tindakan semacam ini dapat semakin memicu ketegangan dan meningkatkan risiko konflik di Timur Tengah. Sejarah menunjukkan bahwa setiap perselisihan mengenai Selat Hormuz memiliki potensi untuk memicu respons militer yang cepat dan berdampak global.
