Seorang anak perempuan berusia 8 tahun dari Louisiana, Amerika Serikat, meninggal dunia setelah terinfeksi amuba langka yang dikenal sebagai ‘pemakan otak’. Kematian tragis ini menjadi pengingat akan ancaman penyakit yang jarang terjadi namun mematikan ini.
Korban yang tidak disebutkan namanya ini terjangkit infeksi akibat amuba bersel tunggal, *Naegleria fowleri*. Organisme berbahaya ini biasanya ditemukan di air tawar hangat, seperti danau, sungai, dan sumber air panas. Infeksi terjadi ketika amuba masuk ke hidung seseorang, kemudian bergerak ke otak dan menghancurkan jaringan otak.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat melaporkan bahwa infeksi yang disebabkan oleh *Naegleria fowleri* sangat jarang terjadi, namun tingkat kematiannya sangat tinggi, mencapai lebih dari 97%. Dari 154 kasus yang dilaporkan di Amerika Serikat antara tahun 1962 hingga 2021, hanya satu orang yang diketahui selamat.
Meskipun jarang, kasus ini menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bahaya dari lingkungan air tawar, terutama saat cuaca panas. Gejala awal infeksi amuba ini seringkali mirip dengan meningitis bakteri, yang meliputi sakit kepala parah, demam, mual, dan muntah. Seiring perkembangan penyakit, gejala dapat memburuk menjadi leher kaku, kebingungan, kurangnya perhatian pada orang lain dan lingkungan sekitar, kejang, halusinasi, serta koma.
Pihak berwenang kesehatan setempat terus mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan saat beraktivitas di perairan tawar. Menggunakan penjepit hidung saat berenang, menghindari memasukkan kepala ke dalam air, serta membatasi penggunaan air dari sumber yang tidak diolah untuk membilas hidung dapat membantu mengurangi risiko terinfeksi amuba pemakan otak ini.
