Tuesday, 21 July 2026
BREAKING
HIBURAN

Teror Konser Taylor Swift di Wina Digagalkan, Pelaku Divonis 15 Tahun Penjara

Oleh Wibowo July 20, 2026 19 hours lalu 0 komentar

Seorang pria Austria berusia 21 tahun, Beran A., dijatuhi hukuman 15 tahun penjara oleh pengadilan Austria pada Kamis (28/5) atas rencana serangan teror pada konser Taylor Swift di Wina. Vonis ini dijatuhkan setelah melalui proses persidangan panjang yang membuktikan keterlibatannya dalam perencanaan aksi terorisme di Stadion Ernst Happel.

Dalam persidangan, Beran A. menyampaikan penyesalan mendalam atas perbuatannya yang nyaris mencelakai ribuan penggemar. Ia mengaku sangat menyesali rencana serangan tersebut sebelum hakim membacakan putusan.

Tuntutan yang dihadapi Beran A. meliputi pelanggaran berat terkait tindakan terorisme yang membahayakan publik, keanggotaan dalam organisasi teroris internasional ISIS, kepemilikan bahan peledak rakitan dan senjata tajam, serta perencanaan pembunuhan massal terhadap kerumunan penggemar.

Pengacara pelaku, Anna Mair, membenarkan bahwa kliennya sangat menyesali tindakannya yang dianggap sebagai kesalahan terbesar dalam hidupnya. Ia kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi.

Beran A. ditangkap pada Agustus 2024 setelah pihak berwenang mendeteksi aktivitas mencurigakan. Ia diduga berencana menyerang penggemar Taylor Swift di Stadion Ernst Happel menggunakan pisau atau bom rakitan. Penyelidikan mengungkap bahwa ia tidak bertindak sendiri dan berkomunikasi dengan pihak lain.

Ia diadili bersama rekannya, Arda K., yang juga terlibat dalam perencanaan serangan teror. Keduanya diduga merencanakan serangan serentak di beberapa lokasi internasional seperti Turki dan Arab Saudi. Namun, Beran A. secara spesifik didakwa terkait rencana serangan pada konser The Eras Tour di Wina.

Konser Taylor Swift yang dijadwalkan berlangsung pada 8 hingga 10 Agustus 2024 di Stadion Ernst Happel, Wina, dibatalkan total demi keamanan. Pembatalan oleh promotor Barracuda Music ini dilakukan sehari sebelum konser dimulai, mencegah potensi korban jiwa di tengah ancaman terorisme global.

Kepala keamanan Austria, Franz Ruf, menyatakan bahwa salah satu tersangka menunjukkan radikalisme yang kuat secara daring dan kelompok tersebut secara intensif menyiapkan bahan kimia untuk membuat bahan peledak di kediaman mereka. Keputusan pembatalan konser, meskipun mengecewakan ribuan penggemar, dianggap sebagai langkah paling tepat untuk memprioritaskan keamanan publik.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait