Friday, 28 August 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Tekanan Darah Tinggi Meroket Pasca Gempa NTT: Studi Ungkap Keterkaitan Medis

Oleh Muzairi M August 28, 2026 54 minutes lalu 0 komentar

Hipertensi atau tekanan darah tinggi menduduki peringkat kedua sebagai penyakit terbanyak yang diderita warga di wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Temuan ini bukan sekadar statistik, melainkan didukung oleh hasil studi yang mengindikasikan adanya kaitan medis antara pengalaman bencana gempa dengan peningkatan kasus hipertensi.

Menurut data yang dihimpun, hipertensi menjadi penyakit nomor dua yang paling banyak dilaporkan di daerah yang dilanda gempa. Kondisi ini menjadi perhatian serius para tenaga medis dan peneliti, mengingat dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan masyarakat.

Studi yang dilakukan oleh tim peneliti menemukan bahwa stres psikologis yang dialami korban gempa menjadi faktor utama pemicu lonjakan tekanan darah. “Kecemasan, ketakutan, dan trauma akibat bencana alam ini dapat memicu respons fisiologis dalam tubuh, termasuk pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin,” jelas seorang ahli medis yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Hormon-hormon stres ini, lanjutnya, dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan peningkatan detak jantung, yang pada akhirnya berujung pada kenaikan tekanan darah. Bagi individu yang sudah memiliki predisposisi hipertensi, pengalaman traumatis seperti gempa dapat memperburuk kondisi mereka secara signifikan. Bahkan, bagi mereka yang sebelumnya sehat, paparan stres berkepanjangan pasca-bencana berpotensi memicu timbulnya hipertensi.

Lebih lanjut, studi tersebut juga menyoroti faktor lingkungan pasca-gempa yang turut berkontribusi. Kesulitan akses terhadap pangan sehat, perubahan pola makan yang drastis, serta kurangnya istirahat yang memadai akibat kondisi pengungsian atau kerusakan rumah, juga menjadi elemen penting yang memengaruhi kesehatan kardiovaskular warga.

“Perubahan gaya hidup yang mendadak dan tidak ideal ini, ditambah dengan beban emosional, menciptakan kombinasi yang sangat rentan bagi timbulnya penyakit tidak menular seperti hipertensi,” ujar seorang peneliti. Ia menambahkan bahwa edukasi kesehatan dan dukungan psikososial yang berkelanjutan sangat krusial untuk membantu masyarakat korban gempa dalam mengelola stres dan memulihkan kondisi kesehatan mereka.

Pemerintah daerah dan berbagai organisasi kesehatan telah menggalakkan program pemeriksaan kesehatan rutin dan penyediaan layanan konseling bagi para penyintas gempa. Upaya ini diharapkan dapat meminimalisir angka penderita hipertensi dan penyakit terkait lainnya, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan, terutama di masa-masa sulit pasca-bencana.

Bagikan: Facebook X WhatsApp