Tuesday, 21 July 2026
BREAKING
HIBURAN

Semesta Nekra: Novel Andre Syahreza Padukan Memori ’98 dan Keresahan Sosial-Politik

Oleh Wibowo July 21, 2026 8 hours lalu 0 komentar

Mantan jurnalis Andre Syahreza merilis novel terbarunya, Semesta Nekra, yang secara resmi diluncurkan pada Mei 2026. Karya fiksi ini merupakan respons Andre terhadap kondisi sosial-politik Indonesia belakangan ini, sekaligus menuangkan imajinasi dan memorinya sebagai saksi hidup era reformasi 1998. Peluncuran buku ketujuh ini bertepatan dengan 28 tahun berakhirnya kekuasaan Orde Baru, menandai refleksi mendalam Andre terhadap perjalanan sejarah bangsa yang dibalut prosa imajinatif.

Semesta Nekra hadir dengan struktur narasi yang unik, terdiri dari 30 cerita pendek yang terbagi dalam tiga babak. Setiap cerita disajikan dari sudut pandang karakter yang berbeda, namun semuanya terhubung dengan tokoh sentral, Nekra Selabar. Pembaca akan diajak melihat Nekra melalui berbagai lensa profesi, mulai dari pedagang asongan hingga prajurit tentara, yang secara kolektif memberikan gambaran utuh tentang transformasi seorang aktivis menjadi politisi di masa depan.

Karakter-karakter yang memberikan kesaksian dalam novel ini antara lain pedagang asongan yang menyaksikan dinamika jalanan, prajurit tentara dan tukang gali kubur yang bersinggungan dengan sisi gelap kekuasaan, teknisi mikrofon yang mendengarkan percakapan di balik layar politik, serta aktivis dan rekan seperjuangan Nekra saat menentang Orde Baru. Potongan-potongan kesaksian warga ini membentang dari tahun 1994 hingga proyeksi masa depan di 2033, menciptakan nuansa wawancara mendalam yang membuat narasi politik yang berat menjadi lebih personal dan mudah dicerna.

Andre Syahreza menekankan bahwa Semesta Nekra bukan sekadar nostalgia tahun 1998. Ia menganggap label “buku 1998” dapat menimbulkan kesalahpahaman karena cakupan ceritanya jauh lebih luas dan tidak terpaku pada satu momen sejarah tersebut. Baginya, karya ini lebih tepat disebut sebagai pengusung semangat reformasi yang kini terasa kembali aktual. Andre melihat adanya kemiripan gejala sosial-politik saat ini dengan yang terjadi menjelang runtuhnya Orde Baru.

Beberapa pesan penting yang ingin disampaikan Andre melalui novel ini mencakup kegelisahan terhadap kebangkitan praktik oligarki di pemerintahan, dampak kenaikan harga kebutuhan pokok yang membebani masyarakat, ajakan kepada pembaca untuk mengevaluasi keberhasilan agenda reformasi, serta pentingnya keterlibatan publik dalam diskursus perubahan sosial dan politik. Dengan rentang waktu hampir empat dekade, buku ini membedah bagaimana sejarah cenderung berulang dalam pola yang serupa, dengan memilih tahun-tahun spesifik yang erat kaitannya dengan momentum demokrasi atau peristiwa sosial besar di tanah air.

Andre menolak jika Semesta Nekra dikategorikan sebagai buku sejarah atau alat politik. Ia melihat karyanya sebagai eksperimen penulisan yang memadukan latar belakangnya sebagai jurnalis dan sastrawan. Fokus utamanya adalah pada teknik penyampaian cerita yang tidak konvensional untuk memberikan pengalaman membaca yang berbeda, membangun narasi melalui struktur yang unik, bukan semata-mata pesan politik. Latar belakang pendidikan Andre di Fakultas Sastra Universitas Udayana, pengalaman jurnalistiknya di Bali Post, TEMPO, dan majalah djakarta!, serta statusnya sebagai peneliti tamu di The Royal Netherlands Institute (KITLV) Belanda, sangat memengaruhi ketajamannya dalam merangkai fakta dan fiksi. Melalui buku ini, Andre berharap pembaca dapat menyelami realitas yang ia bangun dari perpaduan riset dan imajinasinya.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait