Nilai tukar Rupiah berhasil menutup pekan ini dengan catatan positif. Mata uang Garuda menguat 0,69% terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), mengakhiri perdagangan Jumat (7/8/2026) di level Rp17.897 per Dolar AS.
Penguatan ini menjadi angin segar di tengah dinamika pasar keuangan global. Meskipun angka ini mencerminkan performa positif dalam rentang waktu sepekan, para pelaku pasar kini mengarahkan pandangan pada pergerakan yang akan terjadi di pekan mendatang.
Analis memperkirakan pergerakan Rupiah di pekan depan akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor makroekonomi domestik maupun internasional. Data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pada pekan ini menjadi salah satu perhatian utama. Selain itu, kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) juga akan terus menjadi sorotan.
Seorang analis dari PT Indosurya Sekuritas, William Surya Wijaya, menyatakan bahwa penguatan Rupiah sejauh ini menunjukkan adanya sentimen positif di pasar. “Penguatan Rupiah dalam sepekan ini patut diapresiasi, menunjukkan minat investor terhadap aset-aset di Indonesia masih terjaga,” ujar William.
William menambahkan bahwa meskipun ada sentimen positif, volatilitas masih mungkin terjadi. “Perlu dicermati rilis data ekonomi AS, khususnya inflasi. Jika inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, ini bisa memberikan tekanan pada mata uang emerging market termasuk Rupiah,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya kebijakan moneter BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Di sisi lain, penguatan Rupiah ini juga didukung oleh aliran dana masuk ke pasar keuangan domestik. Data dari Kementerian Keuangan mencatat bahwa hingga akhir Juli 2026, investasi portofolio asing di Indonesia mencatatkan surplus. Hal ini menjadi salah satu penopang penguatan nilai tukar Rupiah.
Dengan adanya berbagai faktor yang saling terkait, pergerakan Rupiah di pekan depan diprediksi akan tetap dinamis. Pasar akan terus mencermati rilis data ekonomi, kebijakan bank sentral, serta perkembangan geopolitik global yang dapat mempengaruhi sentimen investor.
