Friday, 10 July 2026
BREAKING
EKONOMI

Rupiah Melemah ke Rp17.943 per Dolar AS di Penutupan Kamis: Sentimen Global dan Domestik Berebut Pengaruh

Oleh Yohanes June 26, 2026 2 weeks lalu 0 komentar

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Kamis (25/6) sore, ditutup di level Rp17.943. Mata uang Garuda tercatat merosot 9 poin atau 0,05 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya, menunjukkan adanya tekanan di tengah dinamika pasar global dan regional. Pergerakan rupiah ini kontras dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang justru terpantau menguat.

Pelemahan rupiah ini menjadi sorotan mengingat sebagian besar mata uang di Asia Pasifik berhasil mencatatkan penguatan signifikan terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia memimpin penguatan dengan kenaikan 0,52 persen, diikuti oleh peso Filipina yang naik 0,36 persen. Won Korea Selatan juga menguat 0,20 persen, yuan China bertambah 0,14 persen, dan dolar Singapura menguat tipis 0,08 persen. Namun, di antara tren penguatan tersebut, yen Jepang bergerak berlawanan dengan melemah 0,02 persen, sementara dolar Hong Kong terpantau stabil tanpa perubahan berarti.

Tidak hanya di Asia, mata uang negara-negara maju juga mayoritas menguat terhadap greenback. Franc Swiss mengukir kenaikan 0,18 persen, disusul poundsterling Inggris yang menguat 0,14 persen. Dolar Kanada bertambah 0,04 persen, euro Eropa naik 0,02 persen, dan dolar Australia menguat tipis 0,01 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pelemahan indeks dolar AS memang terjadi secara luas, namun rupiah tampaknya belum sepenuhnya mampu memanfaatkan momentum tersebut.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan indeks dolar AS yang terjadi belakangan ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Situasi ini terjadi setelah arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali pulih sepenuhnya. Pemulihan tersebut merupakan dampak positif dari kesepakatan penghentian konflik antara Iran dan Israel yang berhasil dicapai, mengurangi ketegangan geopolitik yang sempat memanas.

Ibrahim lebih lanjut mencatat bahwa Menteri Energi AS, Chris Wright, telah mengonfirmasi bahwa sedikitnya 20 juta barel minyak telah berhasil melewati Selat Hormuz dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Volume signifikan ini menjadi indikator kuat pulihnya rantai pasok energi global. Menurut Ibrahim, kondisi tersebut secara langsung turut menekan harga minyak dunia yang sebelumnya sempat melonjak, sekaligus mengurangi premi risiko geopolitik yang membebani pasar finansial. Kesepakatan antara Iran dan Israel juga menetapkan periode negosiasi selama 60 hari untuk menangani isu-isu yang lebih sulit, termasuk program nuklir Iran yang kontroversial. Meskipun demikian, Ibrahim optimistis bahwa minyak diperkirakan akan tetap mengalir melalui Selat Hormuz, bahkan jika kesepakatan jangka panjang nantinya tidak berlanjut atau menemui jalan buntu.

Dari sisi domestik, Ibrahim Assuaibi memberikan penilaian positif terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih relatif kuat di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi. Salah satu faktor pendukung adalah upaya pemerintah dalam melakukan diversifikasi pasokan minyak. Ketergantungan impor minyak Indonesia dari Timur Tengah kini disebut hanya sekitar 20 persen, jauh lebih rendah dari sebelumnya, berkat pengalihan pasokan dari sejumlah negara lain. Langkah strategis ini mengurangi kerentanan Indonesia terhadap gejolak geopolitik di kawasan tersebut.

Beberapa indikator ekonomi makro Indonesia juga menunjukkan performa yang solid. Ibrahim menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026 (sesuai data yang disampaikan), menunjukkan resiliensi ekonomi di tengah berbagai tantangan. Selain itu, posisi cadangan devisa negara yang mencapai US$144,9 miliar pada akhir Mei juga menjadi bantalan penting bagi stabilitas nilai tukar rupiah dan perekonomian secara keseluruhan. Realisasi investasi sebesar Rp498,8 triliun juga menjadi penopang stabilitas ekonomi nasional, menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek bisnis di Indonesia.

Meskipun demikian, Ibrahim Assuaibi juga mengingatkan pemerintah untuk tetap waspada terhadap tren surplus neraca perdagangan yang terus menyusut. Meskipun Indonesia berhasil mencatat surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, tren positif ini kian menipis. Oleh karena itu, pemerintah perlu terus mendorong sektor-sektor penghasil devisa non-migas, salah satunya sektor pariwisata yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan pemasukan negara dan menjaga keseimbangan neraca pembayaran.

Melihat berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat (26/6) akan cenderung fluktuatif. Namun, terdapat peluang bagi mata uang domestik untuk menguat tipis dalam rentang yang diperkirakan antara Rp17.940 hingga Rp17.990 per dolar AS. Proyeksi ini mengindikasikan bahwa meskipun tekanan global masih ada, fundamental ekonomi domestik yang kuat dan meredanya ketegangan geopolitik dapat memberikan sedikit ruang bagi rupiah untuk menunjukkan perbaikan. Investor dan pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan terkini, baik dari sisi global maupun kebijakan domestik, untuk mengantisipasi arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait