Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,32% sepanjang pekan ini. Kondisi ini terjadi meskipun pada penutupan perdagangan terakhir pekan ini, rupiah berhasil membukukan penguatan.
Analis pasar keuangan, Riska Afriani, dari PT Bahana Sekuritas, memprediksi bahwa pelemahan rupiah kemungkinan akan berlanjut pada pekan depan. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah dapat menyentuh level Rp18.300 per dolar AS.
“Kami perkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp18.250 hingga Rp18.300 per dolar AS,” ujar Riska dalam risetnya yang dikutip pada Jumat (21/6/2024).
Riska menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah tren penguatan dolar AS secara global yang terus berlanjut. Selain itu, kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) yang cenderung bertahan pada level tinggi juga turut menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Faktor domestik juga turut berkontribusi pada pelemahan rupiah. Arus keluar dana asing dari pasar keuangan Indonesia, baik di pasar saham maupun obligasi, turut memberikan tekanan. Hal ini terjadi seiring dengan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Meskipun demikian, Riska menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih terbilang kuat. Cadangan devisa yang memadai dan tingkat inflasi yang terkendali menjadi bantalan bagi rupiah untuk menghadapi tekanan.
Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) juga terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai kebijakan. Intervensi di pasar valas dan kebijakan moneter yang akomodatif menjadi instrumen yang digunakan untuk meredam volatilitas rupiah.
Menghadapi kondisi ini, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan memantau perkembangan pasar secara cermat. Diversifikasi portofolio investasi juga dapat menjadi strategi untuk meminimalkan risiko di tengah ketidakpastian ekonomi global.
