Presiden Nintendo, Shuntaro Furukawa, akhirnya angkat bicara terkait kelangkaan kartu Pokemon yang meresahkan. Ia mengakui tingginya permintaan membuat kartu-kartu ini dijual oleh pengecer dengan harga fantastis, jauh melampaui harga ritel yang ditetapkan. Fenomena ini bahkan memicu kejahatan, seperti kasus perampokan bernilai miliaran rupiah di Manhattan.
Furukawa menyampaikan hal ini dalam rapat umum pemegang saham. Ia memaparkan bahwa Nintendo menyadari adanya praktik pembelian kartu Pokemon edisi terbatas dalam jumlah besar oleh pihak tertentu. Kartu-kartu tersebut kemudian dijual kembali ke pasar dengan harga yang melonjak drastis. Nintendo kini tengah berupaya mencari solusi konkret untuk mengatasi masalah ini.
The Pokemon Company, anak perusahaan Nintendo yang menaungi lisensi Pokemon, telah mengambil berbagai langkah antisipasi. Salah satunya adalah penerapan sistem penjualan berdasarkan pesanan. Selain itu, mereka juga menjalin perjanjian dengan operator pasar online untuk membatasi praktik penjualan berlebihan.
Untuk produk-produk tertentu yang permintaannya sangat tinggi, The Pokemon Company berencana menggunakan metode verifikasi akun yang lebih ketat. Metode ini akan memanfaatkan Kartu Nomor Saya, sebuah kartu identitas resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang. Tujuannya adalah memastikan kartu jatuh ke tangan kolektor sejati, bukan spekulan.
Furukawa menegaskan bahwa pihaknya terus berkomunikasi intensif dengan The Pokemon Company. Tujuannya adalah merancang strategi pengiriman produk yang efektif langsung ke tangan konsumen. Ia optimis The Pokemon Company akan terus berinovasi dalam menanggapi isu kelangkaan kartu Pokemon yang semakin kompleks.
Secara mengejutkan, hingga saat ini, The Pokemon Company telah memproduksi total 85 miliar kartu Pokemon. Angka ini menunjukkan betapa besarnya popularitas franchise ini di seluruh dunia. Bahkan, pada tahun 2025, perusahaan mencetak 10 miliar kartu baru. Jumlah tersebut melebihi populasi penduduk bumi, namun tetap saja belum mampu memenuhi tingginya permintaan pasar.
Kelangkaan kartu Pokemon bukan sekadar isu bisnis, namun telah berkembang menjadi masalah sosial. Kasus pencurian kartu Pokemon yang terjadi di Manhattan menjadi bukti nyata. Sebuah toko di sana mengalami kerugian mencapai USD 100 ribu atau sekitar Rp 1,7 miliar akibat perampokan kartu berharga tinggi. Aksi kejahatan ini dilakukan dalam waktu singkat, hanya tiga menit, oleh pelaku yang menodongkan senjata.
Upaya Nintendo dan The Pokemon Company dalam menstabilkan pasar kartu Pokemon diharapkan dapat segera membuahkan hasil. Ini penting agar para penggemar setia dapat kembali menikmati koleksi kartu favorit mereka tanpa terhalang harga yang tidak masuk akal.











