Saturday, 22 August 2026
BREAKING
DUNIA

Psikiater Forensik Ungkap Halusinasi “Perintah” Lindsay Clancy Bunuh Anak

Oleh Rini Widiyarti August 22, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Lindsay Clancy, seorang ibu yang didakwa membunuh ketiga anaknya, diduga mengalami “halusinasi perintah” saat peristiwa tragis itu terjadi. Hal ini diungkapkan oleh seorang psikiater forensik yang dihadirkan sebagai saksi ahli terakhir oleh pihak pembela dalam persidangan di Pengadilan Tinggi Plymouth, Massachusetts, Amerika Serikat.

Saksi ahli, Dr. Maria, menjelaskan kepada majelis hakim mengenai dampak serius dari psikosis pascapersalinan yang dialami Clancy. Ia menekankan bahwa kondisi ini dapat menyebabkan seseorang kehilangan kontak dengan realitas dan bertindak berdasarkan perintah yang tidak nyata.

Menurut Dr. Maria, Clancy menderita psikosis pascapersalinan yang parah, sebuah kondisi yang ditandai dengan perubahan suasana hati, kecemasan, kebingungan, dan halusinasi. “Kondisi ini dapat membuat seseorang percaya bahwa mereka sedang diinstruksikan untuk melakukan tindakan tertentu, meskipun tindakan tersebut sangat mengerikan,” ujar Dr. Maria dalam keterangannya di pengadilan.

Pihak pembela berargumen bahwa Clancy tidak memiliki niat jahat dan tindakannya merupakan akibat langsung dari penyakit mental yang dideritanya. Mereka berusaha meyakinkan pengadilan bahwa Clancy tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas perbuatannya karena berada di bawah pengaruh halusinasi yang kuat.

Tragedi ini terjadi pada 24 Januari 2023, ketika Clancy ditemukan di rumahnya di Duxbury, Massachusetts, dengan luka-luka setelah diduga mencekik ketiga anaknya: Cora Clancy (5 tahun), Dawson Clancy (3 tahun), dan Callan Clancy (8 bulan). Ketiga anak tersebut dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum, Tim Cruz, sebelumnya menyatakan bahwa Clancy menunjukkan perilaku yang disengaja. Ia mengutip bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Clancy telah merencanakan tindakannya, termasuk mencari informasi tentang cara bunuh diri dan cara menyakiti anak-anaknya di internet sebelum kejadian.

Namun, pihak pembela bersikeras bahwa tindakan Clancy sebelum kejadian adalah bagian dari episode psikotiknya, bukan bukti perencanaan yang rasional. Dr. Maria menambahkan bahwa terkadang individu yang mengalami psikosis pascapersalinan dapat menunjukkan perilaku yang tampak terencana karena mereka bertindak di bawah pengaruh ilusi dan keyakinan yang salah.

Persidangan ini berlanjut dengan mendengarkan keterangan dari berbagai saksi, termasuk petugas kepolisian yang pertama kali tiba di lokasi kejadian, para profesional medis, dan anggota keluarga. Keputusan akhir pengadilan akan sangat bergantung pada interpretasi bukti dan kesaksian para ahli mengenai kondisi mental Lindsay Clancy pada saat kejadian.

Bagikan: Facebook X WhatsApp