Angka penderita batu ginjal di Indonesia dilaporkan cukup tinggi, menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Berbagai faktor, mulai dari pola makan yang kurang sehat hingga kondisi lingkungan yang ekstrem, diduga menjadi pemicu utama lonjakan kasus ini. Para ahli urologi pun angkat bicara mengenai akar permasalahan yang perlu segera ditangani.
Dr. L.B. Aris Wibawa, Sp.U(K), seorang pakar urologi, menyoroti bahwa kebiasaan konsumsi makanan tinggi protein hewani dan rendah serat menjadi salah satu kontributor terbesar. “Diet tinggi protein hewani, seperti daging merah, jeroan, dan telur, dapat meningkatkan kadar kalsium dan asam urat dalam urine. Jika tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup, kedua zat ini cenderung mengendap dan membentuk kristal yang kemudian menjadi batu,” jelas Dr. Aris dalam sebuah kesempatan.
Selain pola makan, faktor lingkungan juga memegang peranan penting. Tinggal di daerah dengan suhu udara tinggi dan kelembapan rendah, seperti di beberapa wilayah Indonesia, dapat memicu dehidrasi. Kondisi ini membuat urine menjadi lebih pekat, sehingga memudahkan pembentukan batu ginjal. “Saat cuaca panas, tubuh kita akan lebih banyak mengeluarkan cairan melalui keringat. Jika kebutuhan cairan tidak terpenuhi, konsentrasi zat-zat pembentuk batu dalam urine akan meningkat,” tambahnya.
Dr. Aris juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat akan pencegahan. Ia menyarankan agar masyarakat membiasakan diri mengonsumsi air putih minimal 2,5 liter per hari. Selain itu, membatasi asupan makanan tinggi oksalat seperti bayam, cokelat, dan kacang-kacangan, serta mengurangi konsumsi garam juga menjadi langkah preventif yang efektif. “Kesadaran akan pentingnya hidrasi yang cukup dan pola makan seimbang adalah kunci utama untuk mengurangi risiko terkena batu ginjal,” tegasnya.
Lebih lanjut, data dari Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2019 menunjukkan bahwa prevalensi batu saluran kemih di Indonesia mencapai 0,6% dari total penduduk. Angka ini cukup signifikan dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan tenaga medis, untuk mengedukasi masyarakat dan menyediakan akses layanan kesehatan yang memadai.
