PT Pertamina Trans Kontinental (PTK), anak usaha dari Pertamina International Shipping, mengumumkan kinerja keuangan yang gemilang sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan penyedia jasa maritim terintegrasi ini berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,32 triliun, sebuah pencapaian signifikan yang menunjukkan pertumbuhan 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, laba bersih PTK tercatat sebesar Rp1,07 triliun, menegaskan tren peningkatan profitabilitas yang berkelanjutan. Pengumuman ini disampaikan dalam acara Media Briefing yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (25/6), menandai posisi PTK sebagai pemain kunci dalam sektor logistik maritim nasional.
Peningkatan laba bersih ini menjadi indikator kuat resiliensi dan efektivitas strategi bisnis PTK di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PTK, Eko Cahyadi, menegaskan komitmen perseroan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan positif ini di tahun 2026. Meskipun dihadapkan pada ketidakpastian kondisi global, PTK telah merancang peta jalan strategis yang komprehensif.
"PTK akan terus melanjutkan momentum pertumbuhan melalui penguatan bisnis inti, peningkatan operational excellence, transformasi digital, inovasi teknologi, pengembangan bisnis baru, serta implementasi prinsip keberlanjutan," ujar Eko Cahyadi. Ia menambahkan bahwa seluruh upaya ini bertujuan untuk mendukung ketahanan energi nasional dan memastikan operasional perusahaan tetap optimal. Strategi-strategi ini dirancang untuk tidak hanya mengamankan posisi pasar PTK, tetapi juga memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan daya saing di kancah domestik maupun internasional.
Selain pencapaian finansial, PTK juga berhasil menjaga keandalan operasional armada yang dikelolanya. Sepanjang tahun 2025, perusahaan mengoperasikan sebanyak 370 armada kapal yang melayani berbagai kebutuhan industri migas dan sektor lainnya. Kinerja operasional armada ini tercermin dari catatan fleet commercial days sebesar 358,52 hari, yang menunjukkan tingkat utilisasi tinggi. Sementara itu, commission days mencapai 120.118 hari dan commercial days sebesar 119.390 hari, membuktikan efisiensi dan produktivitas yang konsisten dalam menjalankan layanan pelayaran dan logistik maritim.
Menghadapi proyeksi dinamika bisnis yang kian kompleks pada tahun 2026, PTK telah menyiapkan empat pilar strategi utama untuk menjaga stabilitas kinerja keuangan dan operasionalnya. Pilar-pilar ini dirancang untuk mitigasi risiko, sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru di tengah lanskap industri yang terus berubah.
Langkah strategis pertama adalah melakukan cost optimization dan peningkatan efisiensi di seluruh lini bisnis perusahaan. PTK menyadari bahwa pengelolaan biaya yang efektif dan efisien merupakan kunci vital untuk menjaga daya saing, terutama di tengah fluktuasi harga komoditas dan biaya operasional yang tidak menentu di pasar global. Optimalisasi ini mencakup seluruh aspek, mulai dari pengadaan hingga operasional harian.
Strategi kedua berfokus pada pengoptimalan operasi di empat lini bisnis utama perusahaan. Lini bisnis tersebut meliputi penyedia kapal penunjang industri, jasa kepelabuhanan, shorebase atau pangkalan logistik tepi pantai, serta layanan keagenan pelayaran. Direktur Operasional PTK, Yudi Wibisono, menjelaskan bahwa perusahaan akan memperluas pangsa pasar layanan keagenan pelayaran. "Salah satu yang akan kami giatkan adalah layanan keagenan," kata Yudi. Ia menegaskan bahwa layanan ini tidak hanya melayani kebutuhan administrasi pelayaran bagi bisnis captive atau kapal-kapal di lingkungan Pertamina Group, melainkan juga menargetkan kapal non-Pertamina, baik yang beroperasi di dalam maupun luar negeri. Ekspansi ini menunjukkan ambisi PTK untuk menjadi pemain global dalam jasa keagenan.
Pilar strategi ketiga adalah memperkuat aspek keselamatan, keamanan, kesehatan kerja, dan lingkungan (K3L) melalui implementasi program Vision Zero. Program ini mulai dijalankan sejak tahun 2025 dan menjadi komitmen serius PTK terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab. Direktur Pemasaran PTK, Albertus Anto Budi Santosa, menjelaskan bahwa program Vision Zero menargetkan tercapainya zero illness, zero recordable incident, zero fraud bunker, dan zero pollution. Target-target ambisius ini dirancang untuk meningkatkan keunggulan operasional perusahaan secara menyeluruh dan memastikan lingkungan kerja yang aman serta lestari.
Strategi keempat adalah percepatan program dekarbonisasi dan transisi energi, sejalan dengan komitmen global dan nasional terhadap keberlanjutan lingkungan. PTK mencatat keberhasilan signifikan dalam menurunkan emisi sebesar 66.721 ton CO2e sepanjang tahun 2025. Direktur Armada PTK, Dewi Susanti, menjelaskan bahwa upaya ini diwujudkan melalui berbagai inovasi energi hijau. "Dekarbonisasi berasal dari inovasi Green Energy Program, inisiatif efisiensi energi, serta optimalisasi operasional yang lebih berkelanjutan," ungkap Dewi. Inovasi tersebut mencakup penggunaan bahan bakar rendah karbon pada sejumlah kapal, seperti teknologi dual fuel LNG, pemanfaatan panel surya, hingga baterai sebagai sumber energi alternatif. Langkah ini menunjukkan peran aktif PTK dalam mendukung agenda transisi energi dan mewujudkan operasional maritim yang lebih ramah lingkungan.
Dengan laba bersih yang melonjak signifikan dan strategi bisnis yang terencana matang, PT Pertamina Trans Kontinental menunjukkan posisi kuatnya di industri pelayaran dan logistik maritim. Pencapaian finansial dan operasional yang solid ini menjadi fondasi bagi PTK untuk terus berkontribusi dalam menjaga ketahanan energi nasional, sekaligus menjadi pelopor dalam praktik bisnis yang berkelanjutan dan inovatif di tengah tantangan global yang terus berkembang. PTK optimis dapat menjaga pertumbuhan kinerja positifnya di masa depan melalui adaptasi, efisiensi, dan inovasi.










