Mahkamah Agung Pakistan pada hari Rabu, 19 Juni 2024, mengeluarkan perintah penting untuk memindahkan mantan Perdana Menteri Imran Khan dari penjara ke rumah sakit. Keputusan ini diambil setelah adanya kekhawatiran mengenai kondisi kesehatannya yang memburuk di dalam tahanan.
Imran Khan, yang juga merupakan ketua partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI), telah menjalani masa hukuman penjara sejak tahun 2023 atas tuduhan korupsi. Kendati demikian, Khan secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa kasus yang menjeratnya bermotifkan politik.
Perintah pengadilan ini muncul menyusul permohonan yang diajukan oleh pengacara Khan, yang menyoroti perlunya perawatan medis yang lebih memadai bagi kliennya. Pengadilan mendengar argumen dari kedua belah pihak sebelum akhirnya memutuskan untuk memfasilitasi pemindahan Khan ke fasilitas medis.
Meskipun detail spesifik mengenai rumah sakit tujuan belum diumumkan secara luas, langkah ini diharapkan dapat memberikan penanganan medis yang lebih baik bagi mantan pemimpin negara tersebut. Keputusan ini juga menjadi sorotan publik di Pakistan, mengingat status Khan sebagai tokoh politik yang sangat berpengaruh.
Sejak penahanannya, kondisi kesehatan Imran Khan telah menjadi perhatian utama bagi para pendukungnya dan pengamat politik. Pihak keluarga dan pengacaranya kerap menyuarakan keprihatinan atas akses terhadap perawatan yang memadai di dalam lembaga pemasyarakatan.
Penahanan Imran Khan bermula dari vonis yang dijatuhkan terkait kasus Toshakhana, di mana ia dinyatakan bersalah menggelapkan hadiah negara. Namun, partai PTI dan para pendukungnya mengklaim bahwa proses hukum tersebut cacat dan bertujuan untuk menyingkirkan Khan dari kancah politik.
Keputusan Mahkamah Agung ini diharapkan dapat meredakan ketegangan politik yang ada, sekaligus memastikan hak-hak dasar warga negara, termasuk hak atas kesehatan, terpenuhi meskipun dalam situasi penahanan.
