Tuesday, 21 July 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Mengenali Nyeri Otot Pasca-Latihan: Kapan Harus Waspada?

Oleh Heni Maulidya July 21, 2026 12 hours lalu 0 komentar

Nyeri otot setelah sesi latihan baru adalah hal yang lumrah, namun terkadang beredar cerita mengerikan tentang individu yang harus dilarikan ke rumah sakit akibat latihan yang terlalu intens. Memahami perbedaan antara nyeri otot biasa dan kondisi medis serius sangatlah penting.

Nyeri otot tertunda (Delayed Onset Muscle Soreness/DOMS) umumnya muncul sehari setelah latihan berat. Tingkat keparahannya akan menentukan durasinya, seringkali mencapai puncaknya 48 hingga 72 jam pasca-latihan. DOMS ringan mungkin hanya membuat Anda merasa sedikit pegal selama satu atau dua hari, sementara kasus yang lebih parah bisa membuat Anda meringis saat menuruni tangga hampir seminggu. Rasa sakitnya bisa bervariasi dari nyeri tumpul hingga rasa terbakar, dan akan terasa paling tidak nyaman saat Anda menggerakkan otot yang sakit, terutama setelah duduk diam dalam waktu lama. Meskipun bangun tidur terasa nyeri di seluruh tubuh, rasa pegal biasanya berkurang setelah Anda bergerak.

Menariknya, rasa pegal pasca-latihan justru memberikan perlindungan terhadap nyeri serupa di kemudian hari, fenomena yang dikenal sebagai ‘delayed bout effect’. Anda dapat memanfaatkannya dengan tetap berolahraga meski belum sepenuhnya pulih. DOMS hanya terjadi setelah latihan baru atau yang sangat intens; tubuh Anda yang sudah terbiasa dengan gerakan tertentu tidak akan lagi mengalami DOMS parah.

Namun, ada kondisi yang jauh lebih serius yang perlu diwaspadai: rhabdomyolysis, atau ‘rhabdo’. Kondisi ini terjadi ketika kerusakan otot sangat parah sehingga tubuh, khususnya ginjal, tidak mampu mengolah produk limbah metabolik yang masuk ke aliran darah. Meskipun jarang, rhabdo lebih sering dialami oleh pemula yang memaksakan diri secara berlebihan. Sebuah studi di salah satu rumah sakit New York City menemukan 29 kasus rhabdo antara tahun 2010-2014, angka yang sangat kecil dibandingkan jumlah orang yang berolahraga.

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko rhabdo meliputi dehidrasi, berolahraga di cuaca ekstrem, melakukan latihan dengan intensitas atau volume yang sangat tinggi, menjadi pemula yang memaksakan diri, serta mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti ibuprofen atau NSAID lainnya. Selain latihan berat, cedera yang merusak jaringan otot luas atau kondisi kesehatan tertentu juga bisa memicu rhabdo.

Gejala rhabdo yang perlu diwaspadai, menurut CDC, bisa muncul beberapa hari setelah latihan dan meliputi nyeri otot parah, kelemahan, pembengkakan, urine berwarna gelap (seperti teh atau cola), dan kelelahan ekstrem. Jika Anda mengalami gejala-gejala ini, segera cari pertolongan medis, termasuk ke unit gawat darurat atau klinik darurat. Tes darah, khususnya tes creatine kinase atau creatine phosphokinase, dapat mengonfirmasi rhabdo dan membantu mencegah kerusakan ginjal atau komplikasi serius lainnya.

Untuk DOMS ringan, fokuslah pada pemulihan melalui tidur, nutrisi, dan waktu. Bergerak ringan seperti berjalan kaki atau kardio ringan dapat membantu, begitu pula pijatan, peregangan (namun hati-hati agar tidak berlebihan), mandi air hangat, atau penggunaan bantalan pemanas. Jika Anda ragu atau merasa ada yang tidak beres, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait