Istilah baru ‘beige flag’ kini tengah ramai diperbincangkan dalam konteks hubungan interpersonal. Berbeda dari ‘red flag’ yang mengindikasikan bahaya atau ‘green flag’ yang menandakan potensi positif, ‘beige flag’ merujuk pada karakteristik atau perilaku seseorang yang cenderung aneh, nyeleneh, namun tidak secara inheren buruk maupun baik.
Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh pengguna TikTok, @abig compromiso, pada awal tahun 2023. Ia mendefinisikan ‘beige flag’ sebagai sifat seseorang yang cukup aneh atau unik, namun tidak sampai menimbulkan kekhawatiran atau pujian.
Dalam sebuah video TikTok yang viral, @abig compromiso memberikan beberapa contoh konkret dari ‘beige flag’. Ia menyebutkan bahwa seseorang yang selalu memesan makanan yang sama setiap kali makan di luar, atau seseorang yang memiliki kebiasaan berbicara dengan suara monoton, bisa dikategorikan memiliki ‘beige flag’. Contoh lain yang diangkat adalah kebiasaan menyimpan semua struk belanjaan atau memiliki koleksi barang yang sangat spesifik dan tidak biasa.
Perlu digarisbawahi, ‘beige flag’ bukanlah sebuah diagnosis psikologis resmi, melainkan sebuah istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan keunikan individu dalam sebuah hubungan. Sifat-sifat yang termasuk dalam kategori ini seringkali bersifat netral dan tidak berdampak signifikan pada kualitas hubungan secara keseluruhan, meskipun bisa menjadi bahan pembicaraan atau pengamatan menarik.
Perbedaan mendasar antara ‘beige flag’ dengan ‘red flag’ dan ‘green flag’ terletak pada implikasinya. ‘Red flag’ adalah sinyal peringatan yang menunjukkan adanya potensi masalah atau perilaku toksik yang perlu diwaspadai. Sebaliknya, ‘green flag’ adalah indikator positif yang menunjukkan kesesuaian, kematangan emosional, dan potensi hubungan yang sehat. Sementara itu, ‘beige flag’ berada di antara keduanya, menggarisbawahi aspek-aspek yang tidak biasa namun tidak mengancam, sekadar membuat seseorang terlihat sedikit berbeda dari kebanyakan orang.
Tren ini menunjukkan bagaimana masyarakat, terutama generasi muda, semakin terbuka dalam mengidentifikasi dan mendiskusikan nuansa dalam dinamika hubungan. Penggunaan istilah-istilah seperti ‘beige flag’ menjadi cara untuk memahami dan mengapresiasi keunikan setiap individu, tanpa harus langsung melabeli mereka sebagai baik atau buruk.
