Banjir bandang yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, dilaporkan menimbulkan dampak dahsyat dan memakan korban jiwa. Peristiwa tragis ini dipicu oleh fenomena alam ekstrem berupa tanah longsor yang meruntuhkan sebagian gletser di kawasan Pegunungan Himalaya.
Kepala Badan Nasional Pengendalian Bencana Nepal (BNPB), Mayor Jenderal Arifin, menjelaskan bahwa longsoran tersebut menyebabkan material gletser dan batuan meluncur deras, menciptakan gelombang air yang sangat besar. “Longsoran ini yang kemudian menghantam gletser dan memicu terjadinya banjir bandang,” ujar Mayor Jenderal Arifin dalam keterangan persnya pada Selasa (7/5/2024).
Akibatnya, beberapa wilayah di kedua negara terdampak parah. Di Nepal, sedikitnya 10 orang dilaporkan meninggal dunia dan 20 lainnya masih dalam pencarian. Banjir tersebut juga menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur, termasuk rumah warga dan jembatan.
Di sisi lain, otoritas China melaporkan bahwa banjir bandang yang sama telah merusak bendungan di Tibet. Meskipun belum ada laporan korban jiwa dari pihak China, kerusakan infrastruktur dilaporkan cukup luas. Peristiwa ini menyoroti kerentanan wilayah Himalaya terhadap perubahan iklim dan dampaknya yang dapat melintasi batas negara.
Para ahli memperingatkan bahwa peningkatan suhu global berkontribusi pada pencairan gletser yang lebih cepat di Himalaya. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya bencana alam seperti tanah longsor dan banjir bandang. Fenomena ini menjadi pengingat akan urgensi penanganan perubahan iklim dan perlunya kesiapsiagaan menghadapi bencana di wilayah pegunungan tinggi.
