Austria mulai memberlakukan larangan mengenakan jilbab bagi anak-anak di bawah usia 14 tahun di sekolah, seiring dimulainya tahun ajaran baru. Kebijakan ini memicu perdebatan sengit, dengan pemerintah mengklaim bertujuan melindungi hak-hak anak perempuan, sementara para kritikus menilai langkah tersebut justru memperburuk sentimen anti-Muslim.
Undang-undang yang mulai berlaku pada Senin (3/9/2018) ini secara spesifik melarang penutup kepala yang menutupi seluruh wajah atau rambut, yang dalam konteks ini merujuk pada jilbab atau hijab. Aturan ini berlaku untuk semua jenis sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.
Pemerintah Austria, yang dipimpin oleh Partai Rakyat Austria (ÖVP) dan Partai Kebebasan Austria (FPÖ), menyatakan bahwa undang-undang ini dirancang untuk menanamkan nilai-nilai sekuler dan kesetaraan di kalangan anak-anak muda. Menteri Pendidikan Heinz Faßmann dari ÖVP menegaskan, “Tujuannya adalah untuk melindungi hak-hak anak perempuan muda dari segala bentuk tekanan sosial dan eksklusi.” Ia menambahkan, “Ini bukan tentang pelarangan jilbab, tetapi tentang melarang penutup kepala yang menutupi wajah di sekolah.”
Namun, kebijakan ini menuai kritik keras dari berbagai pihak. Kelompok advokasi Muslim dan beberapa politisi oposisi berpendapat bahwa larangan tersebut diskriminatif dan secara tidak adil menargetkan komunitas Muslim. Mereka khawatir bahwa undang-undang ini akan memicu rasa tidak aman dan kebencian terhadap Muslim di Austria.
Salah satu organisasi yang menyuarakan keprihatinan adalah Platform Hak-Hak Muslim di Austria. Dalam sebuah pernyataan, mereka menyatakan, “Larangan ini adalah serangan terhadap kebebasan beragama dan hak anak untuk berekspresi. Ini mengirimkan pesan yang salah kepada anak-anak Muslim bahwa identitas mereka tidak diterima.” Mereka juga menyoroti bahwa undang-undang ini tidak membedakan antara jilbab yang hanya menutupi rambut dan niqab yang menutupi wajah, padahal keduanya memiliki makna dan praktik yang berbeda.
Seorang guru di Wina yang memilih untuk tidak disebutkan namanya mengungkapkan kekhawatirannya. “Saya khawatir ini akan menciptakan ketegangan di kelas. Bagaimana kita akan menjelaskan kepada anak-anak mengapa mereka tidak boleh mengenakan sesuatu yang merupakan bagian dari keyakinan mereka? Ini bisa menjadi sumber perundungan,” ujarnya.
Kebijakan ini merupakan bagian dari serangkaian langkah yang diambil oleh pemerintah koalisi konservatif-nasionalis Austria sejak menjabat pada akhir 2017. Selain larangan jilbab di sekolah, pemerintah juga telah memberlakukan larangan penggunaan cadar di ruang publik yang berlaku untuk semua perempuan, terlepas dari usia atau agama mereka, pada Juli 2017.
