Indonesia masih memiliki daya tarik kuat dalam industri lahan, khususnya di kawasan Jabodetabek, meskipun dihadapkan pada persaingan ketat dari Vietnam. Prospek permintaan lahan industri di Tanah Air diprediksi tetap tinggi, didorong oleh kebutuhan ekspansi bisnis dan investasi yang terus mengalir.
Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Tanah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Budi Dwi Hokong, proyeksi kebutuhan lahan industri di Indonesia masih sangat besar. Ia menggarisbawahi bahwa Jabodetabek menjadi magnet utama bagi para investor yang mencari lokasi strategis untuk pengembangan pabrik dan fasilitas produksi.
“Kami memproyeksikan kebutuhan lahan industri di Indonesia masih sangat besar, terutama di Jabodetabek,” ungkap Budi Dwi Hokong dalam sebuah kesempatan.
Perkiraan ini sejalan dengan data yang dirilis oleh konsultan properti Colliers International Indonesia pada akhir 2023. Laporan tersebut menunjukkan bahwa tingkat kekosongan lahan industri (land bank) di Jabodetabek masih sangat rendah, mengindikasikan permintaan yang tinggi. Secara spesifik, kawasan Cikarang, Bekasi, mencatat tingkat kekosongan lahan industri hanya sebesar 0,71% per kuartal IV 2023. Angka ini menunjukkan bahwa lahan yang tersedia sangat terbatas dan cepat terserap oleh industri.
Tak hanya Cikarang, kawasan industri lain di sekitar Jakarta seperti Karawang juga menunjukkan tren serupa. Tingkat kekosongan lahan industri di Karawang tercatat sebesar 1,03% pada periode yang sama. Sementara itu, di luar Jabodetabek, kawasan industri seperti Surabaya, Jawa Timur, juga masih diminati dengan tingkat kekosongan lahan sebesar 2,67%. Kendati demikian, Jabodetabek tetap menjadi pusat perhatian utama.
Persaingan dari Vietnam memang patut diwaspadai. Negara tersebut dilaporkan berhasil menarik banyak investasi, terutama di sektor manufaktur, berkat biaya tenaga kerja yang lebih rendah dan insentif investasi yang menarik. Hal ini membuat Vietnam menjadi alternatif utama bagi perusahaan multinasional yang ingin mendirikan basis produksi di Asia Tenggara. Namun, Indonesia, dengan pasar domestik yang besar dan infrastruktur yang terus membaik, masih menawarkan keunggulan kompetitif tersendiri.
Pemerintah Indonesia sendiri terus berupaya meningkatkan daya saing dengan memperbaiki iklim investasi dan mempermudah perizinan. Upaya ini diharapkan dapat menjaga momentum permintaan lahan industri dan terus menarik investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
