Monday, 10 August 2026
BREAKING
DUNIA

Khim Ungkap Detik-detik Mencekam Saat Penembakan Massal di Sekolah Thailand

Oleh Heni Maulidya August 10, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Khim, seorang siswa yang selamat dari insiden penembakan massal di sebuah pusat penitipan anak di Provinsi Nong Bua Lamphu, Thailand, pada 6 Oktober 2022, membagikan kisah dramatis tentang perjuangannya untuk bertahan hidup. Ia menceritakan bagaimana ia berlari mencari perlindungan dan bersembunyi di balik pintu toilet saat pelaku menebar teror.

Peristiwa mengerikan itu terjadi ketika pelaku, mantan polisi bernama Panya Khamrab, menyerbu pusat penitipan anak Na Klang pada Kamis siang. Ia melepaskan tembakan membabi buta yang menewaskan 37 orang, sebagian besar adalah anak-anak balita, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.

Khim, yang saat itu berusia delapan tahun, menggambarkan kekacauan yang terjadi. “Saya mendengar suara tembakan, jadi saya berlari ke toilet,” tuturnya kepada wartawan. Ia bersembunyi di sana bersama beberapa teman sekelasnya, menahan napas, berharap tak ditemukan oleh sang penyerang.

Di tengah ketakutan yang mencekam, Khim mengungkapkan bahwa ia melihat pelaku menggedor pintu toilet tempat ia dan teman-temannya bersembunyi. “Dia menggedor pintu,” kenang Khim dengan nada bergetar. Momen tersebut, bagaimanapun, tidak berlalu lebih jauh. Pelaku tampaknya tidak berhasil membuka pintu tersebut, memberikan kesempatan bagi Khim dan anak-anak lain untuk tetap selamat.

Kisah Khim ini menjadi salah satu dari banyak kesaksian pilu dari para penyintas tragedi yang mengguncang Thailand itu. Ia berhasil keluar dari gedung dalam keadaan selamat, meskipun trauma mendalam akibat menyaksikan kekejaman yang terjadi di depan matanya. Keberanian dan ketenangannya dalam menghadapi situasi yang sangat mengerikan patut diapresiasi.

Penyelidikan atas motif pelaku terus dilakukan oleh pihak berwenang Thailand. Panya Khamrab, yang dipecat dari kepolisian pada tahun sebelumnya karena kasus narkoba, diyakini bertindak di bawah pengaruh alkohol dan narkoba saat melakukan serangan brutal tersebut. Tragedi ini kembali membuka diskusi mengenai isu kesehatan mental dan akses terhadap senjata api di Thailand.

Bagikan: Facebook X WhatsApp