Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan peringatan keras mengenai fenomena “copycat suicide” atau bunuh diri meniru, menyusul insiden yang terjadi di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Minggu (2/6/2024). Juru Bicara Kemenkes, dr. Mohammad Syahril, menekankan pentingnya kesadaran masyarakat akan bahaya ini dan perlunya segera mencari bantuan profesional ketika menghadapi masalah kesehatan mental.
Insiden di GBK, yang melibatkan seorang warga negara asing yang melakukan upaya bunuh diri, menjadi perhatian Kemenkes sebagai pemicu potensi “copycat suicide.” “Fenomena ini dapat memicu orang lain yang memiliki kerentanan, terutama remaja dan anak muda, untuk meniru. Oleh karena itu, kami sangat prihatin dan mengingatkan masyarakat,” ujar dr. Syahril dalam keterangan resmi yang diterima pada Rabu (5/6/2024).
Kemenkes menegaskan bahwa tekanan psikologis yang dialami seseorang dapat berujung pada tindakan ekstrem jika tidak ditangani dengan tepat. “Setiap orang berisiko mengalami tekanan psikologis. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengelola stres dan mencari pertolongan,” tambahnya.
Untuk mengatasi risiko tersebut, Kemenkes mendorong masyarakat untuk tidak ragu mencari dukungan. “Jika ada yang merasa tertekan, jangan sungkan untuk berbicara dengan orang terdekat, keluarga, sahabat, atau profesional kesehatan seperti psikolog dan psikiater,” imbau dr. Syahril. Kemenkes juga menyediakan layanan konsultasi kesehatan jiwa melalui hotline Kemenkes di nomor 119 extension 8, yang beroperasi 24 jam.
Lebih lanjut, Kemenkes juga menyoroti peran penting media dalam pemberitaan kasus bunuh diri. Pemberitaan yang bertanggung jawab dan tidak mengeksploitasi detail kejadian dapat membantu mencegah penyebaran informasi yang dapat memicu “copycat suicide.” Kemenkes berharap masyarakat dapat lebih peduli terhadap kesehatan mental diri sendiri dan orang di sekitar, serta bersama-sama menciptakan lingkungan yang suportif.
