Sebanyak 170 pendaki terpaksa dievakuasi dari kawasan Ranu Kumbolo, Gunung Semeru, Jawa Timur, akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda jalur pendakian. Insiden ini menyebabkan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengambil keputusan tegas untuk menutup sementara aktivitas pendakian demi keselamatan.
Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, Sarmin, mengonfirmasi penutupan tersebut. “Semua pendaki yang berada di Gunung Semeru, baik di jalur pendakian maupun di kawasan Ranu Kumbolo, dievakuasi,” jelasnya pada Senin (19/6/2023). Keputusan ini diambil menyusul laporan adanya titik api yang terdeteksi di kawasan Gunung Semeru.
Proses evakuasi terhadap 170 pendaki yang tertahan di Ranu Kumbolo dilakukan dengan hati-hati oleh tim gabungan. Mereka dibantu oleh personel dari Balai Besar TNBTS, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, serta unsur TNI dan Polri. Meskipun menghadapi situasi darurat, evakuasi dilaporkan berjalan lancar tanpa ada laporan korban jiwa.
Karhutla di kawasan Gunung Semeru ini menjadi perhatian serius mengingat dampaknya terhadap ekosistem dan keselamatan pengunjung. Pihak Balai Besar TNBTS mengimbau masyarakat dan pendaki untuk mematuhi aturan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di musim kemarau.
Situasi karhutla yang terjadi di Gunung Semeru ini merupakan pengingat pentingnya kesadaran akan pencegahan kebakaran hutan. Pihak berwenang terus berupaya memadamkan api dan melakukan pendinginan di area yang terdampak untuk mencegah api meluas. Keputusan penutupan pendakian akan ditinjau kembali setelah situasi dinyatakan aman.
