Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan destinasi pariwisata yang memukau. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana mengoptimalkan potensi tersebut agar mampu menghasilkan devisa negara secara maksimal. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri, James Riady.
Menurut James Riady, pembangunan sektor pariwisata tidak selalu menuntut adanya proyek-proyek raksasa. Pendekatan yang lebih strategis dan terukur dinilai lebih efektif dalam mengkonversi kekayaan alam dan budaya Indonesia menjadi sumber pendapatan negara.
“Kita punya banyak sekali destinasi. Tapi bagaimana kita bisa mengubah potensi itu menjadi devisa, itu yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” ujar James Riady. Ia menekankan bahwa fokus pembangunan pariwisata seharusnya tidak hanya pada kuantitas destinasi, melainkan pada kualitas pengelolaan dan daya tarik yang ditawarkan kepada wisatawan.
Lebih lanjut, James Riady menyarankan agar pemerintah dan pelaku industri pariwisata dapat bersinergi dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang kuat. Sinergi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengembangan infrastruktur pendukung, peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata, hingga promosi yang lebih masif dan tepat sasaran di pasar internasional.
Ia menambahkan bahwa inovasi dalam paket wisata dan pengalaman turis juga menjadi kunci. Dengan menawarkan pengalaman yang unik dan otentik, Indonesia dapat bersaing dengan destinasi global lainnya. “Bukan hanya soal membangun hotel atau bandara, tapi bagaimana kita membuat wisatawan datang, bertahan lebih lama, dan membelanjakan uangnya di sini,” tegasnya.
James Riady berharap, melalui strategi yang tepat dan kolaborasi yang solid, Indonesia dapat terus meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional dan menjadi salah satu pemain utama dalam industri pariwisata dunia.
